Posted by: yb3td | May 28, 2012

YB3TD Jadi Juri Iwak-Iwak

Lomba adu signal ngga cuma terjadi di 7,000; 7,060 dan 7,100 Mhz saja. Tapi sabtu – minggu kemarin lomba adu signal iwak-iwak merata terjadi di semua band HF (kecuali WARC). Yaitu dengan digelarnya perhelatan akbar contest internasional berskala bintang lima, CQ WPX CW 2012. Hanya bedanya kalo iwak-iwak versi Indonesia menggunakan ID yang gak bener (bahkan ada yang ngga sopan blas pake ID tlethong), tapi iwak-iwak versi CQ WPX CW ya pake call sign masing-masing peserta iwak-iwak dari berbagai negara.

Contest sekelas CQ WPX memang minimal persyaratan perangkatnya relatif tinggi. Power kalo ngga gede ya ngga enak untuk mancal. Antenna kalo ngga yagi 3 elemen ya siap-siap diinjak-injak peserta negara lain. Udah powernya besar, antenna yagi pula. Jadi oke-oke saja saya menyebutnya kontes iwak-iwak (tapi yang kemarin pake mode CW lho).

Stasiun YE3J yang digawangi oleh YB3VK, YC3DTL dan YB3TD dikasih target 500 QSO saja sebagai pemanasan. Antena YE3J dibuat oleh mbah Slamet YB3EZ yang menyiapkan yagi 3 elemen untuk 15m dan 20m serta 1 elemen untuk 40m. Canggih lo YB3EZ, menyiapkan design antena dan rencana susunan di satu tower itu dengan menggunakan software MMANA-GAL. Padahal kalo liat wajahnya, yo ndeso banget lah. Tapi bisa ngomong panjang lebar soal F/R ratio segala. Saking ndesonya, waktu nyebut MMANA-GAL saja dengan managal. Saya sampe bingung, managal iku opo gak mudeng blaz. Ternyata MMANA-GAL. Salut lah mbah.

Hasil QSO dengan N1MM logging software membuat team YE3J nyaman. Target 500 QSO sudah tercapai di hampir tengah malam pertama. Tiba-tiba target dinaikkan menjadi 1000 QSO. Hehehe. Alhamdulillah tercapai menjelang tengah malam kedua tercapai 1001 (angka satu atas request mbah Slamet YB3EZ). Langsung ditutup log nya dan saya pulang ke Gresik.

Situasinya bener-bener mirip iwak-iwak dengan YE3J sebagai juri nya. Tiap buka warung dan masuk ke DX cluster, langsung deh pada iwak-iwak ke YE3J. Signal nya ngga main-main. Banyak banget yang sampe 10 db – 20 db over S9. Lokal banget. Dalam waktu singkat langsung naik QSO rate YE3J. Jadi adu kuat signal memang tradisi di dunia ham radio.

Tapi yang menarik adalah pertemuan dengan mas Eko W. Selama ini cuma imel-imelan, komentar di blog ini atau ketemu di kaskus. Kali ini Alhamdulillah bisa land copy (bahasa keren dari kopi darat). Sama-sama mantan anak Bulak Sumur. Sama-sama air band freaks. Sama-sama pemakan mendoan dan tahu brontak. Juga sama-sama pemakan buntil lumbu. Senang bisa ketemua anda, mas. Tapi maap karena wis mbengi, aku jane wis mandan ngleyang itu. Antara capek dan exhausted. Anda pulang, aku juga pamit pulang. Esih nom banget ya anda. Tapi kalo diliat dari namanya, anda sepertinya anak mbarep ya mas?

Posted by: yb3td | May 23, 2012

Build Your Own Yaesu CT-62 Cable

Masih dari serial tulisan mengenai Yaesu FT-857D yang baru sebulan nongkrong di sebelah kanan LCD Screen LG Flatron L1773WSB, kali mengenai penggunaan CAT (Computer Aided Tuning) pada Yaesu FT857D. Kalo bisa membuat sendiri kabel Yaesu CT-62, kenapa harus beli yang asli?

Berawal dari informasi harga kabel asli Yaesu CT-62 yang dibanderol 400 ribuan, rasanya kok kemahalan. Apalagi setelah diteliti mendalam, Yaesu CT-62 sekedar level converter dari RS-232 ke TTL. Mestinya bikin sendiri dengan IC MAX232 pasti jauh lebih murah dong. Juga adanya kendala colokan yang disediakan yaitu standard serial DB-9 di sisi komputer. Tentu ini juga merepotkan karena komputer jaman sekarang sudah tidak menyediakan lagi serial port DB-9. Jadi mau gak mau memang kita kudu modal USB2Serial converter yang banyak tersedia di pasaran. Lalu tinggal kita tambahkan level converter itu. Gampang kan. Modalnya gak lebih 150 ribu (ngga termasuk ongkos tol Gresik – Ps.Genteng PP loh sekitar 50 rb).

Tetapi masih ada lagi nilai tambah kalo kita bikin sendiri level converter untuk menggantikan kabel asli Yaesu CT-62, yaitu pin no. 4 dari RS-232 nya masih bisa kita gunakan untuk keying CW mode. Bahkan pin no. 7 bisa dibuat “Always ON” untuk memberikan supply tegangan ke rangkaian interface jika diperlukan karena mampu memberikan tegangan output 9 V DC. Sedangkan untuk keperluan CAT Yaesu FT-857D sendiri hanya membutuhkan 3 pin saja yaitu TxD, RxD dan Ground. Tetapi tentu saja feature CW keying ini berguna kalo anda CW’er ya. Kalo bukan ya ngga ada gunanya. Hehehe

Pilihan level converter sengaja saya pilih yang praktis pake IC Maxim Max232. Harganya murah cuma 1.1 $ dan sangat sederhana. Max232 hanya membutuhkan dua buah elco kecil utk membuat tegangan minus virtual standard RS-232. Komponen tambahan lain hanya catu daya kecil yang saya pilih IC 7805 yang mendapat catuan dari Yaesu FT-857D di port CAT nya yang menyediakan supply 13,8 V. Atau bisa saja alternatifnya kita pake pin 7 RS-232 yang bisa memberikan supply 9V asal dibuat “Always ON” melalui N1MM.

Seluruh rangkain level converter saya masukkan ke dalam sepasang konektor DB-25. Hal ini dimaksudkan supaya kelihatan praktis saja. Karena kalo rangkaian Yaesu CT-62 ini kita tempatkan di PCB khusus maka akan membuat pusing juga nyiapin box nya. Jadi sekalian aja saya taruh di dalam kelontongan konektor DB-25. Kacamata baca saya, Armani, sampai patah dalam rangka mengerjakan perangkat ini. Ada penampakan frame Armani saya di foto.

Hasilnya Alhamdulillah lancar. Yaesu FT-857D saya bisa dikendalikan dari komputer melalui software Ham Radio Deluxe (free) dan N1MM Contest Logger (free). Bahkan waktu dicoba pengendalian menggunakan MixW (demo version) pun juga bekerja normal. Berbeda dengan kisah di blog sebelah Yaesu FT-450D nya ngga bisa kendalikan melalui MixW (jhahahaha).

Setting yang paling penting adalah gunakan CAT Rate di  38400 bps. Paling smooth setting nya adalah Ham Radio Deluxe. Saya cuma ditanya radionya apa. Sisanya dia sendiri yang otomatis scan. N1MM agak rumit sedikit karena berbau manual, tapi prinsipnya sama. MixW juga agak rumit tapi masih lebih mudah dibanding N1MM. Saya juga menemukan hal aneh saat mencoba MixW, yaitu adanya setting offset frekuensi untuk membetulkan frekuensi yang meleset. Tadinya saya nggak ngerti untuk apa ada, tetapi menjadi mengerti saat mencoba mengendalikan Yaesu FT-857D saya dengan ditemukannya selisih frekuensi sebesar 1000 Hz antara MixW dan FT-857D. Setelah kotak offset itu saya isi dengan 1000 Hz, bereslah sudah selisih frekuensinya.

Sebenernya saya juga dapat kiriman dari YD0NGA satu buah modul USB to TTL yang terbuat dari chip FT232. Tapi karena pertimbangan kepraktisan saja sehingga modul itu saya simpan sementara menunggu mood utk dipake lagi. Pertama bahwa modul itu membutuhkan klonthongan juga yang karena ukurannya gak standard jadi bingung mo dimasukin ke apa. Kedua karena outputnya TTL, masih diperlukan lagi sedikit komponen utk melakukan CW keying di Yaesu FT-857D. Makasih kirimannya, masbro.

Posted by: yb3td | May 8, 2012

Review Yaesu FT857D

Memenuhi self motivation untuk “SAY NO TO RADIO BEKAS”, Alhamdulillah saat ini sudah nangkring di atas meja kerja sebuah radio Yaesu FT857D yang baru 3 minggu ini diterima dari Mirusa. Thanks utk YD0NGA yang bersusah payah cari waktu diantara tugas negara. Ngga ada elo, ngga ada yang beliin, gan.

Feature yang dibenamkan oleh Yaesu di FT857D saya sebenernya ngga terlalu istimewa. Yang mencolok paling ya adanya AF Digital Signal Processor yang bisa digunakan untuk receive dan SSB transmit. Unit AF DSP yang ditanamkan juga rasanya masih basic saja kalo dibandingkan dengan radio-radio mahal lain. Tapi bagi saya yang belum pernah bekerja dengan DSP, bekerja dgn AF DSP yang ada di Yaesu FT857D sudah sangat senang. Apalagi mode CW yang dimanjakan dengan sempitnya Band Pass Window bahkan sampe 60Hz (kalo mau) sudah cukup menjanjikan untuk lebih menekuni contest akbar sekelas CQWW yang densitas nya amat tinggi.

Saat bekerja SSB, senang juga saat mengaktifkan feature Digital Band Pass Filter yang ada di Yaesu FT857D. Contoh gampangnya kalo ada orang yang tuning di frekuensi kerja kita ngga akan terdengar suara tuuuuuuuuuuuuuutttt … di speaker FT857D. Karena frekuensi itu tidak lulus saringan. Tapi kadang masih ada yang bisa lolos juga. Setelah saya amati rupanya itu adalah mereka yang tuning untuk bekerja di frekuensi lain tetapi berada cukup dekat dengan frekuensi saya.

Frekuensi kerja yang amat lebar membuat radio Yaesu FT857D ini menjadi benda mainan yang menyenangkan. Mulai dari LF sampe dengan UHF lho gan, tetapi tidak continue.  Termasuk keasyikan sendiri mendengarkan percakapan pilot udara slot air band. Bahkan saya ngga ngerti kok bisa mendengarkan Ujung Pandang West Control di 123.9 Mhz AM yang letaknya ada di seberang laut sana. Mungkin tinggi sekali letak pemancarnya sehingga bisa menjangkau Gresik. Bahkan signal penerimaan saya bisa dibilang setara dengan Surabaya West Control di 124,0 Mhz dan  Surabaya Director (APP) di 125,1 Mhz AM atau 123,55 Mhz AM. Signal yang aneh.

Yaesu FT857D saya tidak dilengkapi dengan internal automatic antenna tuner. Jadi kalo anda menyukai feature internal ATU ini, saya sarankan anda membeli Yaesu FT450D atau FT450AT. Tersedia external automatic antenna tuner FC30 yang cocok utk Yaesu FT857D kalo anda memerlukan ATU. Kalo saya sih sudah ada pinjeman AT-130 punyaknya YB1YG jadi ya belum perlu lah beli ATU Yaesu FC-30.

ft857dYaesu FT857D saya kena bandrol 8,8 juta. Memang mahal karena setahun lalu saat sebulan sebelum tsunami Jepang masih ada di kisaran 7,2 juta. Berarti naik 1,6 juta (biasanya per tahun ngga segitu tinggi naiknya). Dengan harga 8,8 juta kira-kira setara lah dengan radio jadul kelas kenwood TS940 yang dipatok 9 jutaan. Saya kategorikan jadul karena memang usia radionya sudah sekitar 25 tahunan lho. Mestinya sudah mulai bermasalah. Sering saya terheran-heran dengan harga radio jadul dengan kemampuan terbatas tapi dihargai mahal. Dan lebih herannya lagi masih banyak yang antri untuk membelinya. Tapi bisa jadi radio-radio jadul itu menjadi mahal kalo dibanding radio-radio modern karena memang radio-radio jadul itu bobotnya jauh lebih berat. Kandungan besi nya lebih banyak. Jadi nanti kalo sudah jadi barang rongsok, maka harga besi tuanya masih lebih mahal daripada Yaesu FT857D saya yang beratnya cuma 2kg di pasar loak jl Demak sini.

Update: ketemu nih satu point negatifnya Yaesu FT-857D yaitu kalo dipake monitor doang malah suhu body nya anget berlebihan cenderung ke panas. Tapi kalo dipake transmit malah lebih dingin suhunya. Pasti ini karena saat transmit justru kipas kecil di dalemnya bekerja. Tapi kalo monitor doang ngga jalan tuh kipasnya. Sialnya saya lebih sering monitor daripada transmit. Jadi enaknya gimana nih?

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.