Wah gawat juga posting saya tentang F23D yang saya punya ternyata banyak juga pembacanya. Bisa-bisa YB3TD dicap dan dijadikan tersangka sebagai Radio Amatir yang tidak serius dan dangkal ilmu radio amatirnya. Untuk itu saya sengaja bikin posting ini supaya para pembaca jadi lebih bisa memaknai tujuan dibikinnya blog saya yang ini, yaitu untuk berbagi ilmu pengetahuan, secara serius maupun santai. Jadi sesekali ada posting yang wagu, selebihnya adalah materi yang memang saya serius menulisnya.
Kali ini mengenai cara menghitung jumper coax antenna yagi. Kalo anda pernah merakit antenna yagi lebih dari 1 steak, pasti akan tahu bahwa kabel jumper coax yang digunakan untuk menyambung kedua antenna yagi anda adalah ternyata RG-11 atau RG-6 atau bahkan RG-59 yang semuanya memiliki angka impedansi 75Ω. Kenapa ngga pake kabel coax yang berimpedansi 50Ω macem RG-8 atau RG-58. Dan justru kalo kita ganti kabel jumper antenna yagi itu dengan kabel coax 50Ω malah kaget karena pembacaan SWR akan meloncat naik. Padahal saat di match secara individual, kita udah dapet hasil pengukuran SWR yang oke (nek orang Cilacap ngomongnya: SWR sudah satu banding odheg). Kenapa bisa begitu?
Susunan kabel coax tadi yang bertujuan untuk membagi power RF dari radio kita lazim disebut sebagai power divider. Atau ada juga yang lebih suka dengan istilah power splitter. Karena yang dibagi adalah tenaga RF, maka mahluk bernama impedansi juga terpaksa harus dilibatkan dalam perhitungannya (artinya kalo anda hanya akan membagi tenaga DC, maka impedansi bukanlah sesuatu yang penting lagi). Maka (lagi), berlaku juga hitungan resistor paralel biasa yang terjadi di sub system power divider itu tadi. Masih inget ngga rumus resistor paralel ? Apa malah ngga tau? Lo radio amatir harus tau rumus dasar ini.
Rumus resistor paralel adalah 1/Rtotal = (1/R1 + 1/R2 + 1/R3 …). Tinggal kita masuk-masukan angka impedansi kabel coax yang hendak kita pake itu, langsung ketemu hasilnya. Kalo kita pake coax 75Ω, akan ketemu angka impedansi 37,5Ω. Tidak terlalu jauh dgn angka 50Ω sehingga kita akan dapat pembacaan SWR yang bagus. Hanya saja biasanya kita kudu setting lagi gamma match antenna yagi kita.
Tapi situasinya berbeda kalo kita pake kabel coax 50Ω. Hasil perhitungan resistor paralel akan memberikan angka cuma 25Ω di titik input divider. Ini akan memberikan pembacaan SWR yang menjengkelkan. Di tuning gamma match antenna yagi nya juga tidak memberikan perubahan. Bisa terjadi begitu karena 25Ω sudah terlalu jauh dari 50Ω.
Begitulah penjelasan teknisnya kenapa jumper coax antenna yagi tidak bisa kita pake kabel coax 50Ω. Bahkan kalo anda bisa nemu di pasaran kabel coax berimpedansi 100Ω itu sangat sempurna. Karena hasil perhitungan adalah nilai impedansi 50Ω di titik input divider. Contoh kabel coax 100Ω adalah RG-62. Siapa tau anda nemu.
Yang terakhir, seberapa panjang jumper coax boleh dipotong? Untuk soal ini, kembali lagi ke posting saya sebelumnya, bahwa kabel coax adalah semata-mata penghantar signal. Jadi tidak ada masalah sepanjang apapun anda potong. Hanya saja ada dua patokan yang pokok, yaitu potong sependek mungkin seperlunya, dan kedua potongan itu harus sama persis panjangnya. Anda tidak boleh memotong dengan selisih. Kalo alasan sependek mungkin, pasti itu karena menghindari coax cable loss. Makin pendek loss akan makin kecil. Sedangkan kenapa kok harus sama persis panjangnya, apa ada yang tau alasannya?


