Saya dan kawan saya YC2ELX sudah sejak 1918 (tua amat) selalu bertengkar tentang satu topik ini yaitu cara menghitung kabel coax supaya match. Kabelnya sendiri dibuat match dulu sebelum disambungkan ke antenna dan radio komunikasi. Kami tidak pernah menemui titik temu. Masing-masing bertahan dengan argumennya sendiri, sebuah argumen yang didapat dari hasil penyelidikan secara langsung. Yaitu dengan memotong kabel coax RG58 sedikit demi sedikit lalu di test nilai VSWR dan test field strength. Hasil dari test itu menunjukkan nilai SWR yang naik-turun mengikuti suatu pola panjang gelombang. Diperkuat dengan hasil test field strength yang menunjukkan adanya pengaruh panjang kabel dgn kuat signal di titik receiver VHF 2m. Itu sebabnya ngotot YC2ELX bertahan dgn argumentasinya.
Saya juga melihat bbrp blog kawan-kawan pengguna radio amatir (belum tentu punya callsign radio amatir) yang mengulas persoalan ini. Cuma dari caranya menghitung hanya membuat saya tertawa karena memasukkan konstanta dan variabel yang sebetulnya aneh untuk dimasukkan dalam perhitungan. Bahkan ada sebuah blog yang menulis beberapa cara penghitungan berbeda yang hasilnya juga berbeda. Teknik pemeriksaan juga ada beberapa macam yang sebenernya itu bukan teknik matching, tapi sekedar mencari pembacaan SWR yang rendah. Aneh lah pokoknya.
Sedangkan saya sendiri bertahan dengan pendapat saya bahwa kabel coax tidak perlu bersusah payah di match dulu sebelum dipasang. Karena sebagai sebuah saluran transmisi, kabel coax tidak boleh meradiasikan energi RF yang dihantarkannya. Sehingga jika terjadi proses radiasi itu, maka itu indikasi adanya problem (mechanical failure) pada kabel coax tersebut. Impedansi yang diterapkan di kabel coax adalah sekedar perpanjangan dari impedansi antenna di feed point nya. Sekedar mempermudah sambungan antara antenna dengan impedansi di mulut konektor radio komunikasi. Jadi ngga ada urusannya melakukan matching kabel coax.
Dan yang paling penting bagi saya (untuk bertahan di argumen ini) adalah topik ini tidak dibahas di buku-buku ARRL. Artinya ARRL tidak melihat adanya manfaat melakukan perhitungan matching panjang kabel coaxial. Tinggal diukur saja berapa meter butuhnya lalu potong di situ. Bahkan ARRL seringkali mengingatkan untuk menggunakan kabel transmisi sependek mungkin (untuk mengurangi loss) dan tidak menyuruh untuk di match dulu kabel coax nya.
Jadi kalo anda masih bertahan dengan argumen perlunya kabel coax di match dulu sebelum dipasang, rasanya anda lebih pintar deh dari ARRL. Hehehehe
Update 25 Mei 2012:
Saya menemukan web site bagus utk menghitung panjang cable coax. Silahkan copy-paste link berikut http://highfields-arc.co.uk/constructors/olcalcs/coaxcalc.htm . Saya menunggu komentar anda atas hasil perhitungannya. Selamat menghitung.


Akhirmya.. muncul juga nih topik.. setelah sekian lama di-empet… Memang di Indonesia hal-hal yang salah kaprah bisa jadi panutan untuk sebagian orang, padahal di era informasi ini sebetulnya kita punya banyak kesempatan untuk mengakses ilmu pengetahuan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang ilmu dari “katanya si A yang sudah makan asam garam (wah darah tinggi dong) si dunia peradioan”…
Kalau kabel yang kita punya memang memiliki spesifikasi yang bisa dipertanggungjawabkan maka kabel itu hanya sebagai saluran transmisi saja yaitu “sending the right signal” (mirip motto-nya Belden).. ndak ada urusannya dengan memperendah VSWR.. Kecuali kabel tersebut dipakai sebagai matching impedance untuk menjodohkan saluran transmisi dengan antena. Yang penting dari kabel itu adalah rugi-rugi-nya (cable losses) pada frekuensi kerja yang akan kita pergunakan sehingga tidak “tertipu” dalam artian output dari TX sebesar X watt dapat dikirim sebanyak X watt sampai di Antena (kalau bisa..). Percuma khan pake RG-8 untuk frekuensi UHF (70cm) karena daya pada input antena bisa cuman separo kurang dari daya yang dikeluarkan TX kita (dengan panjang kabel 100ft/30mtr misalnya).
Oh ya mungkin ada korelasi antara kegemaran membaca (meskipun ARRL Handbook udah diterjemahkan, kalau ada, belum tentu di-baca maklum hobi-nya baca Lampu Merah..), kemampuan bahasa (sudah punya bukunya tapi cuman jadi pajangan soalnya nggak ngerti itu buku ditulis pakai bahasa apaan..), dan keterbatasan pemikiran (males mikir karena udah ada yang mikir lagian di-ya-in saja biar kelihatan pintar..) dengan kesalahkaprahan ini..
Ha ha ha ha.. cape deh.. ya silahkan tanggapan dari Three Call Area… atau Two Call Area… ha ha ha ha ha… opo maneh.. tekan siki kok ora pinter-pinter..
By: YD0NGA on January 31, 2010
at 8:47 pm
iya wingi ijig-ijig kemutan pengin posting materi ini. lucunya, pas aku lagi di tengah-tengan menulis, mak cempulek YC2ELX nelpun koh. setelah bbrp bln ngga kontak. aneh kaya anu kupinge ngana gemrebeg dirasani nang blog. hahaha
By: Rivai Cakep on February 5, 2010
at 8:16 am
Maaf om, ikut nimbrung, saya coba pasang rig yaesu ft2900 di mobil, kebetulan pakai kabel belden rg58a/u 092m dengan panjang 1,80 m, sedangkan antena pakai Merek nagoya panjang cuma 80 cm, tapi saya merasakan kok daya tangkapnya tidak bisa maksimal ya om, apa yang mesti saya kerjakan? maklum belum pengalaman, mohon bantuannya. mohon bisa di kirimkan ke email saya: aristwn4014b@yahoo.com. Trimaksih
By: ari on January 10, 2012
at 12:15 am
cara paling gampang ya ditukar-tukar gan. cobain radio lain di situ. kalo sama aja, berarti radio ok. lalu coba ganti antenna dgn antenna lain. kalo sama aja, mungkin kabelnya. coba ganti dengan kabel lain, khususnya yang berbahan teflon (warnanya coklat) utk tahan panas. kalo tetep ngga ada perubahan, mungkin konektornya. atau mungkin sistem grounding kurang bagus.
maaf jawaban ngga dikirim ke email. dan makasih sudah mampir.
By: yb3td on January 10, 2012
at 6:37 am
Thanks om, informasinya, tak coba uprek lagi, soalnya ada kawan bilang kabelnya mesti diperpanjang kira kira 5,80 m biar match…wahhh….jadi gulungan kabel dong di dalam dasboard….nanti kalau masih bingung boleh ya…tanya lagi…, trimaksih sebelumnya
By: ari on January 10, 2012
at 7:55 pm
monggo kalo ada yang bisa saya jawab, saya akan jawab. selamat bereksperimen.
By: yb3td on January 10, 2012
at 8:11 pm
Hallo om, saya udah coba seperti yang om kasih tunjuk, untuk kabel coak tidak saya potong2 cuma anten saja yang saya naik turunkan atau dirubah arahnya, ternyata hasilnya sudah bagus, Kalo kabelnya tak pendekin hasilnya juga sama bagusnya, kalo anten dipendekin receive nya berkurang. apa memang begaitu ya om? kalo untuk anten mobil kira-kira yang bagus yang kaya apa ya om. makasih
By: aristwn on January 21, 2012
at 9:30 am
kalo antenna dirubah panjangnya, itu mempengaruhi matching dgn frekuensi kerja masbro. wajib hukumnya pake SWR meter untuk mencari panjang optimal dengan frekuensi kerja anda. antenna mobil yang baik nek nurut saya sih yang tipe 5/8 λ (tapi full size ya) karena ada gain dan take-off angle rendah dibanding 1/4 λ. saya sendiri lebih suka pake larsen lokal. karena murah, 5/8 λ dan lentur. sayang tongkrongannya ngga keren. jelas ngga cocok dari segi artistik kalo dipasang di pajero sport. ketok le mbethithil mas. jhahaha
By: yb3td on January 21, 2012
at 9:49 am
Mungkin begini,mungkin loh ya.
Coax 1/4 lamda bersifat transformasi terbesar impedansi dengan persamaan
Zi/Zc = Zc/Zo,di mana Zi=Imp input,Zo=Imp output dan Zc=Imp coax.
50 Ohm ditransfer jadi 100 Ohm dengan coax 70 koma sekian Ohm;dipakailah 75 Ohm panjang elektrik 1/4 lambda.Banyak dipraktekkan untuk menggabung 2 antena yagi.Imp antena yang semula 50 Ohm diubah menjadi 100 Ohm dan diparalel via konektor T akan diperoleh 50 Ohm lagi.
Nahh,misale input 50-coax juga 50 maka;supaya rumusnya benar;outputnya ternyata tetap 50.Artinya coax 1/4 lambda yang mempunyai efek paling tinggi dalam hal mengubah impedansi pun ternyata tidak berefek apabila impedansi inputnya sama dengan impedansi si coax.
Namun mengapa oh mengapa dalam prakteknya memotong kabel coax seringkali mengakibatkan VSWR turut bertingkah? Andaikata yang jadi pathokan adalah 50 Ohm, berarti ada variabel2 penentu yang tidak 50 Ohm,koyoto : pemancare,SWR metere dan…ini yang paling mbebehi…kabel koexnya Nda…yang saking bingunge terus dipotong-potong; dan jadi konangan;kawat tengah tidak selalu di tengah!!! Kadang menepi.Dasar kabel tokoan.
Karena ternyata kabel yang berasal dari Mangkang,dipotong berapapun tetap aja METCING eui.He…he…masih punya gak tuh?
By: Parjo lagi on February 5, 2010
at 12:34 am
ya itulah kenapa sampe hari ini saya masih percaya bahwa memotong-motong kabel coaxial adalah “membuang mechanical failures”. rupanya terbukti di kabel andrew ya. jadi sekarang mari sama-sama ketawa kalo ada yang ngotot kabel coax perlu di match dulu. hehehe. dan resmi “perselisihan” kita diakhir sampe disini?
mangkang? hahaha aku be tau ngreseki mangkang barengan karo YDØNGA kae. hahaha
By: yb3td on February 5, 2010
at 8:09 am
…..kapan nda ngreseki Mangkang maning?
Ha ha…..FYI terakhir dapat kiriman tuh dari OM Jepang, 30m, ndak tahu apakah dari Mangkang juga…..he he…peace bro!
Aku sendiri pernah ngalami cut & error, alias coaxial dipotong terus diukur SWR sama tukang pasang antenna, suwe2 kok gendheng juga nih bisa-bisa habis coaxial-ku!
By: Sardjana on February 8, 2010
at 3:51 pm
ya udah ngga ada akses mangkang mening bozz. hehehe. nek jepang tu okeh dekne rg8 inner tunggal. amarga iku kabele base carrier 70Mc. jadi dimana ada microwave, dekne pasti ada kelebihan.
tukang antenna anda ketoke bukan meh mecing kabel lo, tapi ngasah tang potong. hehehe
By: yb3td on February 8, 2010
at 4:22 pm
Ha ha ha… mbiyen tak pikir kuwi mung isu thok, jebul pas pertama ngunggah-ke antena kabel-mu mbiyen kae yo di rajang2 tukang tower koyok meh gawe brambang goreng, wah jebul tenan ki.. kaco dah…
By: yd0nga on February 19, 2010
at 7:56 am
sakjane nek ngrajange tipis-tipis kan isa digoreng tepung, digawe rempeyex. hahaha
By: Rivai on February 19, 2010
at 10:38 am
maaf ikut nimbrung…. Saya ga punya call sign tapi rasanya saya tertarik bahasan ini. Ada pertanyaan mohon dijawab:
1. Beda antara impedansi karakteristik dengan impedansi sebenarnya dari saluran dengan panjang tertentu?
2. Pada frekuensi tertentu mengapa nilai SWR disepanjang kabel koaksial nilainya berbeda? Apa betul nilai-nilai tersebut akan berulang tiap 1/2 lamda?
3. Mengubah ukuran panjang antena berarti mengubah impedansi antena, apa betul?
By: yanto on February 23, 2012
at 12:49 pm
saya punya call sign tapi pengin mutah alias muak dengan keadaan dunia radio amatir Indonesia mas. hehehe.
1. teorinya ya ngga ada beda. tapi kan bikin kabel adalah proses manual. sehingga ya kadang-kadang ada titik-titik yang agak mletho.
2. saya belum pernah nemu hal begitu mas. mungkin saya yang kurang banyak ngukurin swr kabel coax.
3. tidak betul.
By: yb3td on February 23, 2012
at 2:09 pm
Rumus dikoreksi
Zo/Zc = Zc/Zi imp rendah ke tinggi atau
Zi/Zc = Zc/Zo imp tinggi ke rendah
jan jane pada bae
By: Parjo lagi on February 5, 2010
at 12:40 am
loh rumuse manda keliru apa ya kang. nek Zc ada di sisi seberangan begitu kan bisa dicoret. ketemune Zi=Zo dong. ndean tapine. hehehe
By: yb3td on February 5, 2010
at 8:11 am
Salam , Sehat Selalu , Saya setuju dengan pendapat dan kenyataan bahwa COAX tidak perlu di Maching karena sudah dari Pabrikan dibuat sedemikian rupa sehingga impedansinya 50 ohm ( percaya aja sama Pabrikan he he he ,,) jadi yang harus dimaching adalah ANTENANYA >>>>betu , betul , betul ……………Peace ah…
By: Dedi Supriadi on February 5, 2010
at 2:16 pm
ya anda coba aja jalan-jalan antar blog. nanti ketemu deh blog yang saya maksud. hehehe
By: yb3td on February 5, 2010
at 3:12 pm
Walah walah kuato…gitu aza kok refots..la orang Indonesia tu paling pinter je..buktinya pinter ngapusi, pinter ngakali, pinter korupsi,..dkk ne, sampai coaxial aza diakali la jd pabrike bodo ya…tp indonesia ga isa bikin coax piye kui eh eh eh
By: deBejo on March 7, 2010
at 12:47 pm
hahaha ya begitulah. tapi anda salah besar ngomong ngga ada orang kita yang bisa bikin coax. ada satu pabrik kabel merk kitani. pabriknya di purwokerto. dulu yo sering liwat ning ndak pernah mampir. produknya beredar luas di pasaran. kualitasnya? jangan tanya soal itu. titik.
By: yb3td on March 7, 2010
at 12:58 pm
OM Rivai
Memang banyak amatir radio berani ngomong tapi tak pernah baca buku yg penting urat lehernya kuat
Tapi kalau sependek mungkin juga tidak lah memang rig itu sama dengan HT kan tidak,hahahah
By: YC1VOG on March 9, 2010
at 9:39 am
sependek mungkin yang mana nih boss, ngga mudeng aku.
By: yb3td on March 9, 2010
at 9:41 am
Maksudnya sakin fanatik coax sependek mungkin,coaxnya dipotongin terus ,ahirnya antena nya ditempelin di output rig,hehehe
By: gunawan on March 10, 2010
at 1:28 am
mungkin saja terjadi tuh kalo kita beli kabel yang ngga jelas kualitasnya. maksud hati pengin dapet matching bagus, coax dipotong-potong. eeeh tau-tau udah nempel di radio deh antennanya. pake rig serasa pake HT.
By: yb3td on March 10, 2010
at 3:36 am
menurutku juga bener…. kabel kok di match kan gak salah tuh…. yang di macth kan antenanya……
saya pernah coba pasang swr di dekat radio lalu pindah di dekat antena hasilnya sama saja kok… kabel gak ada pengaruhnya… bener gak om.
By: YD2OPL/JZ11SNK on September 13, 2010
at 6:52 am
ya itulah, rupanya mereka yang tergabung dalam paguyuban the cable matchers lebih pinter dari radio amatir amrik. dilihat dari metodologi penjodohannya saja sudah sangat lucu. hehehe. tapi biarin deh, nanti kalo kabelnya habis kan baru tau makna tulisan saya ini.
makasih sudah mampir mas.
By: yb3td on September 15, 2010
at 1:40 pm
Kalau saya tidak melihat amrik atau manaaaa…
?? yang penting dapat dibuktikan alias Cience, Cience
By: acenkukiew on September 16, 2010
at 8:29 am
membuktikan apa mas?
By: yb3td on September 16, 2010
at 9:19 am
Banyak cara agar dapat berjodoh lho….. ya … tentunya kita harus belajar lagi
By: acenkcukiew on October 7, 2010
at 12:27 pm
la sebenernya tau apa engga caranya? hahaha. malah bikin bingung aja nih bank Acenk. lah kok akhir komentarnya ngajak sama-sama belajar lagi. ayok aja. saya paling seneng belajar keradioamatiran kok. terutama sisi tekniknya. kalo soal organisasinya, biarin orang lain yang mikir. hehehe
By: yb3td on October 7, 2010
at 12:35 pm
Si A
cara menghitung kabel coax supaya match
Kabelnya sendiri dibuat match dulu
sebelum disambungkan ke antenna dan radio komunikasi
Si B
kabel coax tidak perlu bersusah payah di match dulu sebelum dipasang. Karena sebagai sebuah saluran transmisi, kabel coax tidak boleh meradiasikan energi RF yang dihantarkannya
Jadi kalo anda masih bertahan dengan argumen perlunya kabel coax di match dulu sebelum dipasang, rasanya anda lebih pintar deh dari ARRL
Si acenk
Bingung………….. alias kita harus belajar lagi
By: acenkcukiew on October 8, 2010
at 10:17 am
hehehe. ayuk sama-sama belajar biar pinter. biar ngga gampang dibohongin orang. kalo ada orang beda pendapat, kita jadi bisa adu argumen (dalam makna positif). biar jadi radio amatir yang mumpuni.
By: YB3TD on October 8, 2010
at 1:05 pm
saya mau tanya, penyebabnya apa….kalo kabel yang impedansinya 75 ohm, saya potong potong sulit untuk mendapatkan matching di swr, tapi kalo saya pake kabel yang impedansinya 50 ohm (rg 58) saya potong potong bisa ketemu matching di swr…pertanyaannya :
1. kenapa ada perbedaan pada kedua kabel ?
2. kalo pake yang 75 ohm sulit mencari matcing di antene, sebaliknya kalo pake 50 ohm mudah untuk matching diantene…
trima kasih.
By: gowangk on October 23, 2010
at 12:08 pm
cak gowank, kalo anda pake radio buatan pabrik, mulut konektor antena radio anda sudah dibikin berimpedansi 50 Ω. sehingga mau ngga mau, anda kudu pake kabel 50 Ω.
1. kalo anda pake 75 Ω, itu artinya ada perbedaan impedansi cukup besar yaitu 50% yang akan terdeteksi oleh SWR meter anda sebagai sebuah kondisi tidak berjodoh (unmatch).
2. kalo anda pake kabel 75 Ω, antenna anda juga kudu 75 Ω (misalnya open dipole yang 72Ω). tapi kondisi ini memunculkan problem di titik mulut konektor antenna karena di situ impedansinya si radio adalah 50Ω. jadi anda harus menggunakan serba 50 Ω mulai dari saluran transmisi s/d antenna. kalo radio anda berimpedansi 50 Ω, kabel anda 75Ω lalu antenna anda 50 Ω, SWR meter anda pasti akan njengat, cak.
By: yb3td on October 23, 2010
at 12:45 pm
om2 smua, ane mau tanya donk.. ada ga sih referensi buat perancangan kabel coaxial?? kalau om2 dsini tau, gmna sih cara ngitung atau rumusnya kabel coaxial dengan beban supaya matching, dan jenis2 kabel apakah yg mempunyai impedansi 50 ohm dan 75 ohm, saat kapan kah keduanya dipakai?? tolong bantu ya om, terima kasih banyak..
By: indra on December 2, 2010
at 8:54 am
wah pertanyaanya banyak nih.
1. merancang kabel coax? wah dulu pas mata kuliah itu, saya ngga masuk karena sakit, cak.
2. menjodohkan antenna vs coax. gampang (teorinya).
a. ketahuilah dulu nilai impedansi antenna dan kabel coax nya
b. ketahuilah tipe antenna balance atau bukan
c.jika ada perbedaan impedansi antara antenna dan coax, butuh pengubah impedansi
d. jika antenna ternyata tipe balance, butuh pengubah balance to unbalance (balun)
3. jenis-jenis kabel coax ada di blog saya yang ini http://yb3td.com/?p=80 . kalo berkenan, klik iklannya juga ya. hehehe.
4. kapan kabel coax itu dipake. tergantung keadaan dong. kalo anda butuh jumper utk menggabung dua antenna yagi di 2m, anda butuh kabel berimpedansi 75 ohm. atau pada saat lingkungan kerja memiliki suhu tinggi, sebaiknya menggunakan kabel berpelapis teflon. atau saat antenna terletak jauh dari pemancar, gunakan kabel dengan loss paling rendah. sesuaikan juga frekuensi kerja dgn tipe kabel. makin tinggi frekuensi kerja, makin mahal kabelnya. bahkan di atas frek 2GHz, sdh tidak ada kabel lagi yang mampu menghantar.
makasih sudah mampir.
By: yb3td on December 2, 2010
at 9:30 am
cara biar tau impedansi pada antena gmna ya om, klo coax kan udah dari pabrikannya ya?? trus pengubah impedansi dipasangkan di kabel atau di antena om?? newbie sama coaxial nih om :p
memang knapa om klo antenanya harus tipe unbalance??
berarti kabel impedansi 75 ohm hanya untuk menggabungkan 2 buah antena ya?? kalo impedansi kabel 95 dan 125 buat apa om??
satu lagi misal jarak antena yg jauh dari pemancar, impedansinya mempengaruhi jga ga sih?? makasih ya om
By: indra on December 2, 2010
at 2:54 pm
1. liat impedansi? waduh, anda ceritanya lagi ngapain sih ini? ngga komplet ceritanya. saya yang males njawab kalo panjang-panjang.
2. pengubah impedansi diletakkan di tengah antara dua benda yang impedansinya berbeda.
3. kabel coax kan unbalance. kalo di feed ke antenna balance akan menggeser pola radiasi. di swr meter akan muncul pembacaan buruk. bahkan kalo menggeser fasa, akan lebih repot kalo saling mengeliminasi.
4. coax 75 biasanya dipake utk tv lo cak. 95 dan 125 saya belon pernah liat utk apa. tapi kalo jumper pake yang 95 bakal bagus tuh karena nilai impedansi paralelnya udah deket banget sama 50 ohm, dibandingkan jumper dgn 75 ohm.
5. dalam kondisi ideal, panjang kabel tidak mempengaruhi impedansi. tetapi kalo ada kasus mechanical failure di kabel (misal karena terjepit pintu), itu beresiko muncul perubahan impedansi (di kabel). panjang kabel berpengaruh di soal cable losses.
By: Rivai on December 2, 2010
at 3:39 pm
hhehehehe maaf bgt ya om malah bikin bingung :p
sebenernya buat tugas kuliah om, saya dapet materi gmna caranya merancang kabel coax, makasih bgt bgt bgt om buat jwabannya, smoga berkahh, aminn
By: indra on December 2, 2010
at 4:11 pm
tugas kuliah merancang kabel coax? weleh-weleh apa ya berguna kalo nanti udah kerja? hehehe. kalo gitu, saya tambahin ya. mahasiswa pasti ngerti kalo saya sebut jembatan wheatstone utk mengukur impedansi suatu benda yang tak diketahui. dari tadi mo nyebut itu, takutnya anda malah makin bingung.
semoga dapet nilai A. amin.
By: Rivai on December 2, 2010
at 4:20 pm
OM-nya mantan mahasiswa ya OM?
By: yb2ecg on December 3, 2010
at 6:27 am
nganu, mantan office girl fak teknik UGM hahaha
By: Rivai on December 3, 2010
at 6:51 am
ahahhaha
aminn om, makasih byk yak :p
satu lagi, knapa ya yg dipakai 50 ohm untuk transmisi digital dan 75 ohm untuk analog??
By: indra on December 3, 2010
at 5:16 pm
saya ngga tau pasti alasannya. tapi rasanya sih cuma persoalan ekonomi saja (sdh ada di market sehingga harga jadi murah). karena tidak dibutuhkan persyaratan tinggi utk mengirim biner 0-1-0-1 kan ? hahaha
By: Rivai on December 3, 2010
at 5:29 pm
Om, Acenk mau nanya ceritanya gimana kok Panjang gelombang elektromagnetik di udara sama dengan kecepatan merambat cahaya di udara dibagi dengan frekwensi gelombang elektromagnetik, serius om kan om mantan mahasiswa.
By: acenkcukiew on January 13, 2011
at 11:04 am
jadi dik Acenk, memang bener om mantan mahasiswa. cuma saat mata kuliah panjang gelombang, om gak masuk nih. karena lagi jalan-jalan ke bandung. jadinya gimana ya?
By: YB3TD on January 13, 2011
at 11:15 am
tapi maaf para master, kalo panjang kabel tidak berpengaruh nantinya terhadap radiasi antena, kenapa ya kalo bule (teknisi aseli dari pabrik pembuat ILS) pasang ILS (instrument landing sistem/ radio untuk menuntun pendaratan pesawat terbang) pada saat membuat feeder line harus pakai vector meter untuk memotong-motong kabel agar pas????? apa bule-bule itu goblok ya????
By: edi on March 26, 2011
at 2:13 am
jelas goblok tuh bule-bule ILS nya. kenapa? yach sekedar puas aja beda pendapat sama anda yang berpikir kalo bule tu pinter-pinter hehehe. belom pernah ketemu bule goblok ya, cak?
kalo jawaban halusnya, maaf saya ngga ngerti perangkat ILS, cak. satu-satunya perangkat perangkat navigasi udara yang saya pernah dekat cuma DVOR/DME saat kerja praktek dulu. sempet masuk ke dalam tapi ngga boleh pegang-pegang takut mati alatnya. jadi kalo anda berkenan, tolong diceritakan lebih detail mengenai ILS, vector meter, mengapa mereka melakukan itu, dimana dan saat apa. nanti kita diskusikan rame-rame jawabannya. temtu saya bisa cari di internet jawabannya, tapi rasanya lebih afdol kalo master Edi yang kasih kuliah mata pelajaran ILS kepada saya. gimana master? setuju?
artikel-artikel yang saya baca soal kabel ini ditulis oleh bule-bule juga. jadi pasti ada salah satu dari mereka yang goblok. andaikan bule ILS yang lebih benar, kenapa tidak kita sepakati saja bahwa bule ARRL ternyata yang goblok? (dan kita orang Indonesia yang lebih pinter kan?).
By: yb3td on March 26, 2011
at 8:08 am
saya bukan master dan saya bukan ahli, saya tidak pro panjang kabel berpengaruh atau tidak, cuma saya heran pas waktu teknisi-teknisi itu instalasi, kenapa mereka pada pake alat vector meter untuk parsing kabel???
pernah juga ada installer DVOR yang memasang berpegang pada panjang kabel tak masalah thd pancaran, 38 kabel DVOR asal sama panjang sama merek konektor pasti DVOR bisa transmitt, tapi gak tau juga beberapa kali gagal, yang suka parsing pakai vector meter selalu berhasil. saya juga gak tau persis apa itu vector meter, mungkin master bisa googling.
yang saya pahami memang kalau R dan C kabel lebih pengaruh ke atenuasi saja, semakin tinggi frek, semakin panjang kabel, semakin tinggi atenuasi, itupun juga pemahaman mentah karena saya jarang baca2.
tentang ILS saya rasa master YB3TD bisa googling deh. saya juga gak paham.
By: edi on March 27, 2011
at 12:31 am
sepanjang artikel yang pernah saya baca, ya memang kabel transmisi merupakan kombinasi dari sifat-sifat R-L-C, master Edi. selain berakibat adanya nilai impedansi dan atenuasi, juga muncul fenomena velocity factor (yang wajib diikutsertakan di perhitungan nilai transfer impedansi). selebihnya saya belum nemu lagi artikel tentang acara potong-potong kabel coax. personally saya penasaran darimana tradisi potong-potong kabel itu bermula, tapi karena belom nemu landasan pengetahuannya ya mo gimana lagi bisa percaya. istilah di kaskus: hora percoyo nek hora hono gambare. kalo master Edi dan diantara pembaca ada yang punya literaturnya, sudilah kiranya berbagi link dgn saya.
pengalaman kerja saya sebagai network engineer di sebuah perusahaan seluler di masa lampau justru mendukung apa yang sudah saya baca. jadi gimana mo percaya bahwa memotong-motong kabel bisa meningkatkan performa pancaran radio transmitter kita wong berurusan dgn perangkat gituan (dan instrumen pengawasan yang bagus-bagus) menunjukkan faktor R-L-C di saltrans. apalagi orde frekuensi di seluler kan dlm satuan GHz, dimana selisih panjang 1cm bisa jadi hal sensitif di seluruh sistem BTS.
makasih sdh berkenan mampir di blog saya.
By: Rivai on March 27, 2011
at 6:13 am
kadang saya juga iseng, saya sebenarnya gak ngerti radio, cuma pengen tahu saja……kata orang (itu juga kata orang) kalau sebenarnya potong memotong kabel itu try and eror untuk mendapatkan efisiensi feeder point yang teroptimal dikaitkan dengan jarak TX ke antenna yang hal ini juga berkaitan dengan total r,l,c kabel yang kemudian berkaitan dengan frekuensi kerjanya. kata simbah dulu, juga kalo rangkaian komponen pasif R-L, R-C atau R-L-C sensi thd freq.
sebenarnya saya belum percaya juga panjang kabel untuk feeder point mempengaruhi SWR, karena memang saya gak ngerti.
yang saya heran ya seperti yang awal itu master YB3TD, para bule installer perangkat DVOR ILS selalu pake vector meter untuk potong-potong kabel, goblokkah mereka atau ada maksut lain, itu yang sampai saat ini belum terjawab.
installer-installer itu tenaga ahli dari pabrik, kalau normac ya asli dari normac, kalau RS ya asli dari RS, kalau thales ya asli dari thales.
sampai saat ini heran dan tinggal heran saja.
terimakasih pula master YB3TD atas pencerahannya.
By: edi on March 27, 2011
at 5:33 pm
sayang ya materi diskusinya minim jadi gak bisa dipaksakan utk dicoba kotak-katik maksud dan tujuannya. atau barangkali master Edi ada akses email ke mereka, siapa tau dijawab kalo ditanya via email. hehehe semangat amat.
sukses selalu ya master. salam utk keluarga.
By: Rivai on March 27, 2011
at 5:44 pm
iya memang, dan sungguh sayang saya tidak memiliki akses ke orang-orang tersebut, bisanya cuma tertegun dan melihat.
By: edi on March 28, 2011
at 6:43 am
nubie:
yup..setuju deh ndak pake acara potong2an, kalo di potong terus akhirnya ketemu match di x meter sedangkan jarak TX ke tower antene 2x meter, mo di apain om?
: biasanya saya selalu mentune antene langsung dengan kabel, khan kalo antene match otomatis kabel iya juga khan? betul ngak om?
By: choelo98 on April 4, 2011
at 4:13 pm
yo-i, gan. ane juga berkesimpulan gitu. dan memang ane juga kalo setting SWR pake kabelnya. prinsip ane, kalo udah nyender tu SWR meter (nyang ditarok di connector output radio), maka radio akan adem. soal entar di sistem tranmisi + antena sebenernya bermasalah, gakpapa soalnya radio udah ngeliat output impedansinya udah match ama ujung coax nya.
makasih dah mampir dimari, gan. ane juga nubie nih. sesama nubie dilarang mengeluarkan anggota badan yach.
By: yb3td on April 4, 2011
at 8:35 pm
saya pernah baca di internet, formatnya pdf, disitu dijelaskan kabel tidak perlu di match, beserta rumus atau eorinya,,sayangnya lupa ga disimpen link nya (orang bule juga yg bahas itu)
mungkin ada yg tau…
By: bejo on May 2, 2011
at 11:16 am
yup, gan. ane setuju. makasih sdh mampir.
By: yb3td on May 2, 2011
at 12:31 pm
*masih nyari teorinya nih om,,belum ketemu,,buat bukti juga,,susah bener yaa
By: bejo on May 4, 2011
at 10:11 am
Makanya bro… kalau belajar jangan cuman baca cover bukunya doang, jadinya kayak gini ni…… Kan setiap teori perlu adanya dukungan dari hasil risetnya dulu. Kalau memang teori Ente sudah dianggap paling benar mana dong bukti hasil penilitiannya. Kalau memang coax tidak perlu di match lebih dulu lantas untuk apa ada setiap pabrik coax memberikan data karakterisitk dari masing-masing jenis coax yang diproduksinya? Semua itu tentu dimaksudkan untuk memudahkan penghitungan bagi pengguna dalam memilih jenis coax yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Saya tidak percaya kalau teori anda itu benar sebab dengan menggunakan coax asal potong, saya yakin 999% anda tidak akan pernah menemukan impedance yang tepat 50 ohm meskipun swr menunjukan nilai terendah sekalipun. 1%nya anda akan ketemu hanya pada saat potongan anda kebetulan tepat jika dihitung dengan teori yang anda tolak itu.
Maaf ya Bro….. ini cuman sekedar memberikan apresiasi bagi mereka yang telah bersusah-susah untuk belajar dan rela membuang waktu untuk melakukan penilitian demi kemajuan ilmu pengetahuan.
Salam dan hormat saya,
Mangge
YB8PFR
By: Mangge YB8PFR on May 11, 2011
at 2:59 pm
@YB8PFR
1. makasih sudah kasih komentar. ente nyalahin ane nulis tanpa hasil riset. sekarang ane nanya, emang ente punya hasil riset yang bisa nyalahin pemikiran ane, broer? kasih cantum dong di sini, biar kitorang semua bisa belajar. ane selalu berpikiran terbuka kok dan mau belajar. kalo hasil riset ente lebih benar, ane gak bakal ngotot kok dan bahkan akan dukung riset ente. ayo kasih tunjuk. jangan simpan sendiri. ilmu ente akan lebih bermanfaat kalo ente sebarin. ya kan?
2. yang ini bikin ane bingung. misal nya nih, misalnya ada kabel RG-8 sepanjang 100 feet. menurut ente, di sepanjang 100 feet itu ada titik-titik dimana impedansi akan bernilai TIDAK 50 ohm? wah enak dong. ntar kalo mo bikin three-wire antenna gak perlu pake balun 1:12 karena ente tinggal cari titik dimana impedansi nya RG-8 tadi ada di 450 ohm .hehehe
3. seperti yang udah ane tulis, bahwa kesimpulan ane didasarkan pada kenyataan bahwa ane ngga nemu artikel yang dukung pemikiran ane. jadi ane betul-betul berterima kasih kalo ente bisa kasih bahan bacaan apa aja yang bisa dukung klaim ente. serius nih, ane bakal dukung kok. kita cari kebenaran sejati. tapi kalo ente OMDO, ya maaf ya, pemikiran ane ngga akan berubah dan posting blog ini juga ngga akan berubah.
4. makasih sudah mampir. salam hormat utk keluarga.
By: yb3td on May 11, 2011
at 3:25 pm
betul boss, disembarang titik impedansi kabel yang sebenarnya berbeda-beda dan tergantung pada frekuensi jg. Kalo impedansi karakteristik memang sama disepanjang kabel karena ukuran kabelnya tetep sama RG 8. silahkan coba ini untuk nge-dip kabel koaksial
http://vk1od.net/calc/tl/tllc.php
velocity factor setiap kabel koaks harus diperhatikan selain loss line, ini parameter yang yang sangat penting dan jangan ditertawakan……..
By: yanto on February 23, 2012
at 1:49 pm
ane bingung dengan komentar di atas ane. ngga mudeng ane.
By: yb3td on February 23, 2012
at 2:11 pm
kalau untuk ILSdan DVOR kan entar di pesawat (radio penerima) melihat beda fase dua signal. satu referensi (antena tengah) dengan antena tepi2 {untuk DVOR). untuk LOC beda fhase antara antena samping kanan dan kiri. untuk GP beda fhase antara antena bawah dan atas. secara garis besar, kalau mau detil ya baca bukunya dulu, karena ak baru sekilas bacanya. . kalau mau kirim voice (data) kan ngak perlu dibanding kan beda fhase dengan singal radio lain. cukup terima satu sumber dari satu antena lawan.
kalau melihat dari cara ngemach kabel, menurut saya kalau kabel persis kelipatan lamda akan terjadi resonansi, gelombang akan matul lagi karena persis pada simpul. jadi kalau panjang gelombangnya 2 meter, setiap pemotongan 2 meter hasil swrnya akan sama.
saya setuju, kabel untuk komunikasi voice/data LEBIH PENDEK LEBIH BAIK.
By: rosimandalaar on June 15, 2011
at 7:29 pm
kalo perasaan saya, fenomena lead and lag antara tegangan dan arus di dalam saluran transmisi akan selalu nol resultan nya. sehingga mestinya dimanapun kita memotong kabel, SWR akan selalu sama. maka, kalo ada kejadian memotong kabel yang menghasilkan beda penunjukkan SWR, perasaan saya, patut diduga adanya mechanical failure di konstruksi fisik kabel coax itu.
makasih sudah mampir.
By: yb3td on June 15, 2011
at 9:22 pm
Penasarann aja om dengan teori pemotongan kabel dengan kelipatan lambda, klo motongnya 1/4 lamda ato 5/8 lambda gimana? Stau ane sih itu cuma buat antena aja yg tentunya gak sederhana dipotong 1/4 ato 5/8 langsung OK, kan tetep dikasih loading coil. Jangan2 nanti kabel coax juga perlu loading coil kaya antena klo yg dipake cara ngitungnya punya antena..
Maap ni pertanyaan orang gak ngerti loh
By: H3XXER on September 9, 2011
at 1:47 pm
welah ada gan hexxer. kok bisa kesasar dimari gan? hehhee
kalo menurut nubie, pemotongan kelipatan lambda gitu berguna kalo mo bikin impedance transformer. kayak di yagi-multibeam, atau tipe antenna quad yang impedansi awalnya jauh di atas 50 ohm. supaya mau kita colokin ke coax 50 ohm gitu. tapi sejauh ini ngga ada temen yang bisa kasih literatur referensi soal pemotongan kabel coax kalo mo dipake sebagai kabel transmisi biasa. jadinya ane tetep aja bersikukuh bahwa motong-motong kabel coax utk cari matching nya adalah pekerjaan tanpa manfaat.
di blog nya paketu RI-1 ada pernah diulas paketu nyobain ngetest potong kabel dan di uji pake alat ukur mahal yang Insya Allah hasilnya valid. hasilnya cocok ama sikap ane, gan. apa ya nama blog nya, lupa. maklum amatir tuek nih.
makasih dah mampir.
By: yb3td on September 9, 2011
at 2:42 pm
- jika kabel dipotong2 tentu saja tidak sampai habis karena potongan maksimal adalah 1/2 lambda x Vf.. kecuali kabel bermasalah… apabila dipotong2 lebih dari 1/2 lambda x Vf masih belum ketemu juga artinya kabel rusak..
- memang kabel yang bagus dan impedansinya 50 Ohm kalau dipasang swr diantara transceiver dan kabel dan ujung kabel yang lain dipasang dummy load, dipotong berapapun ya tetap 1:1 VSWRnya.. (dan bukan begini cara yang dipakai)
-tujuan dipotong2 itu untuk mencari kelipatan 1/4 atau 1/2 lambda (yang ini berarti impedansi di connector antenna transceiver sama persis dengan di ujung kabel).. seolah olah antenna langsung ditancapkan di transceiver..
-sehingga pada saat antenna di matchingkan hasilnya adalah didapat VSWR serendah mungkin dan antenna beresonansi di frequency tersebut..
(kan banyak kejadian match tapi ga bisa “lari”, begitu pakai antenna tuner kemudian dicoba2 diurut dari freq. bawah sampai atas ternyata larinya ada di freq yang berbeda dengan match antenna tersebut..)
By: bejo on September 21, 2011
at 7:40 pm
1. mhn info bacaan apa yang mas baca, sehingga anda bisa menyimpulkan “tujuan dipotong2 itu untuk mencari kelipatan 1/4 atau 1/2 lambda (yang ini berarti impedansi di connector antenna transceiver sama persis dengan di ujung kabel)”. posting ini selalu bikin ribut ya di point itu, mas. moga-moga anda bisa kasih tunjuk ke saya dan pembaca lain apa dasar referensi anda. karena komentator lain cuma bisa ngomel-ngomel tanpa bisa kasih link referensi nya.
2. “kan banyak kejadian match tapi ga bisa lari”. sejauh yang saya pernah alami, itu tergantung banyak hal, mas. mulai dari losses kabel yang ternyata besar, sampai dengan take-off angle yang terlalu tinggi. jawabannya ada di kasus per kasus. tapi saya ndak pernah nemu kaitan antara ndak bisa lari dgn motong-motong kabel coax. apalagi kaitan antara ngga bisa lari dgn antenna tuner. asli, saya makin bingung di bagian akhir komentar mas Poengki.
makasih sudah mampir. saya sih open minded, mas.
makasih sudah mampir.
By: yb3td on September 21, 2011
at 9:10 pm
- buku antenna yang pernah kubaca di tahun 1988 antara lain arrl antenna handbook dan banyak lainnya…
memang ga ada yang bilang kabel transmisi harus dipotong2.. itu cuma kesimpulan setelah memasang antenna MV 4 buah.. disana ada kabel yang harus kelipatan 1/4 lambda x Vf supaya hasil dari penggabungan keempat antenna impedansinya tetap 50 ohm.. terus bagaimana mencari kelipatannya? umumnya ya diukur pakai meteran.. (kalau kabelnya pendek oke2 saja, tapi kalau panjang ada cara lain..)
- apabila panjang kabel antenna tidak kelipatan 1/2 lambda x Vf dan kemudian mematchingkan antenna (telex V2S/V2R misalnya) yang terjadi bisa match VSWR bagus tapi antenna tersebut ga beresonansi di frequency tersebut.. nah kalau pengen tahu dimana larinya ya pakai FS meter dan antenna tuner, bisa ketahuan dimana resonansinya..
- ada tambahan untuk mengetahui kabel yang kupakai bagus apa engga, power tx diketahui 5 watt (diukur pakai watt meter), dipasang kabel dan diujungnya dipasang watt meter dan dummy load, nah sekarang tinggal berapa watt terbacanya.. kabel yang pernah kupakai dan terbaik hasilnya adalah heliax 5/8″ bukan yang flexible.. untuk seukuran rg-8 adalah 9913 bukan yang foam tapi yang ptfe yang dibagian dalam seperti ada ulirnya..
- untuk antenna omni yang terbaik yang pernah kupakai homebrew (buatan sendiri) memakai bahan dari antenna HF hidaka, panjang antenna total 7,4 meter dari ujung bawah sampai atas aluminium semua, pembalik fasa juga mengunakan aluminium..
- untuk antenna pengarah terbaik yang pernah kupakai Multi Beam 2 bh yang sudah di tune.. pernah komunikasi dengan rekan sedang didalam mobil tanpa booster di kota solo.., dengan rekan di dalam rumah pakai ht dan antenna helical low power di kota jombang.., o ya aku tinggal di surabaya..
By: bejo on September 23, 2011
at 2:46 am
makasih infonya mas Poeng. sudah jelas terbuka faktanya bahwa anda motong-motong kabel coax sebagai impedance transformer. atau bahasa gampangnya sebagai jumper. dan mestinya anda ngga bisa pake kabel berimpedansi 50 ohm karena nilai resultan paralel nya akan rendah sekali sekitar 25 ohm. padahal posting saya ini adalah tentang motong-motong kabel coax sebagai saluran transmisi utama. jadi penjelasan anda ngga nyambung.
informasi lain dari anda sangat berguna. makasih. semoga bermanfaat utk pembaca yang lain. salam utk keluarga.
By: yb3td on September 23, 2011
at 11:03 am
nah gitu….
By: yanto on February 23, 2012
at 1:52 pm
Lol….q nubie at all dalam tehnik ginian…
but senang baca pro dan kontra..
at least kita nambah wacana lihat mana yang open mind mana yang striker..
jadi inget jakarta lawyers club…terutama jika pesertanya ada nyangg poli tikusss.. dan opportunities
sis n bro gitu…
By: 399 on October 1, 2011
at 11:13 am
hanya satu kalimat yang bisa kuucapkan: selamat menikmati pertunjukkannya gan. hihihihi ….
By: yb3td on October 1, 2011
at 11:29 am
Inyonge melu nabuh gong baen…….
anger kurang rame ya mengko tek rijug Charlie Italia United….. ben dalange wuru…..
By: wur_yd2dxu on October 22, 2011
at 2:02 am
welah busyet, kiye dulur lanang sing ilang. cempulex ngeton koh. aku tau rasan karo DQR priwe kabare DXU. dia juga kehilangan jejake rika, lik. maen ya kabare? mesih di wenjen kah (wangon) ?
soal topik ini, kesel gole nyadoni. tapi ya asyik aja bertukar pikiran. siapa yang punya ilmu yang lebih baik, mbok yao dibagi. hehehe. sering-sering kasih komen ya lik. ditunggu.
By: yb3td on October 22, 2011
at 7:13 am
Berdasarkan perdebatan diatas ttg pemotongan coax, ada kesalahan pemahaman mengenai saluran transmisi. Zo adalah impedansi karakteristik sebual saluran transmisi. Zo di dapat dari jarak antar konduktor dan jenis dielektrikum. Zo memiliki nilai yang sama di sepanjang saluran transmisi, misal 50 ohm, 75 ohm, 300 ohm dll. karena Zo selalu sama di setiap titik di saluran transmisi jadi tidak diperlukan matching Zo / pemotongan saluran transmisi.
Hal yang lain lagi apa bila kita bicara mengenai fasa, fasa tidak sama dengan Zo. fasa dinyatakan dalam bentuk derajat 0 – 360 derajat. derajat fasa pada satu panjang gelombang saluran transmisi berbeda. Untuk menentukan titik potong saluran transmisi sesuai dengan derajat fasa yang diinginkan bisa menggunakan perhitungan matematis sesuai data karakteristik saluran transmisi atau menggunakan vektor meter.
Apabila dalam suatu sistem diperlukan pemancaran pada derajat fasa tertentu, perhitungan pemotongan saluran transmisi mutlak diperlukan sesuai dengan derajat fasa yang diinginkan. Didalam aplikasi di lapangan, pemancaran derajat fasa yg berbeda2 dari setiap antenna di gunakan pada peralatan navigasi udara misal ILS, VOR.
Demikian disampaikan.
By: nugroho on November 15, 2011
at 8:40 pm
fyuuuh makin berat aja nih posting. hahaha. mas Nug, makasih banyak sudah repot bikin resume soal diskusi di post ini. anda sampaikan dua hal. yang pertama tentu saja saya sepakat dgn anda, mas. memang mestinya begitu, impedansi kabel harusnya sama di semua titik pemotongan. kalo tidak sama, saya lebih suka istilah “mechanical failure” untuk menjelaskannya.
tapi yang point kedua, saya ragu utk setuju dgn anda. tapi lebih disebabkan karena saya tidak mendalami peralatan navigasi udara. tulisan anda sepertinya hendak menggambarkan bahwa perbedaan fasa di peralatan navigasi udara dilakukan di saluran transmisi. menurut hemat saya, tidak boleh kita melakukan itu. karena itu akan menurunkan akurasi hasil akhir. mestinya kabel tetep sama panjangnya, dan perbedaan fasa dilakukan dari sumber energi RF di sisi perangkatnya. mungkin bisa dgn bantuan software/firmware. karena memancarkan beda fasa punya konsekuensi.
makasih sudah mampir.
By: yb3td on November 15, 2011
at 9:33 pm
Dear mas yb3td, kebetulan kemaren pas santai liat2 internet baca ttg topik ini jd mampir.
” anda sepertinya hendak menggambarkan bahwa perbedaan fasa di peralatan navigasi udara dilakukan di saluran transmisi. menurut hemat saya, tidak boleh kita melakukan itu. karena itu akan menurunkan akurasi hasil akhir. mestinya kabel tetep sama panjangnya, dan perbedaan fasa dilakukan dari sumber energi RF di sisi perangkatnya”….. iya mas perbedaan phase bs di hasilkan dari banyak cara bs dr sumber rf, phase shifter, commutator, tapping line, different length line, transformer atau dg cara yang lain.
kalo membicarakan fasa secara detail memang agak complicated, di luar dunia amatir dan kepanjangan kalo di tulis di blog, mohon didalami transmission line theory, transmission line delay, smith chart (Zo, ZL, impedance=total voltage/total current, wavelengts toward load or generator, angle of transmission coeficient or reflection coeficient) dan vector network analyzer.bicara perbedaan fasa berarti kita bicara waktu.
As an example, in VOR system, a special and detailed instruction set describes the step-by-step procedures needed to create phase-matched cables, either with standard RG-214coax cable or with 1/4inch Andrew Heliax coaxial transmission line. The conditions are strict since matching is needed for the cable-phase measurements to within +/-0.2degrees at the VOR system frequencies.
Salam.
By: nugroho on November 16, 2011
at 11:14 pm
gak cuma soal fasa saja yang berurusan dgn waktu, mas Nug. la wong bicara soal frekuensi saja kita sudah langsung ketemu rumus f=1/T. ham radio juga harus ngerti soal beda fasa. sehingga antenna yagi 2×13 yang kita pasang bisa bekerja maksimal setelah kita atasi problem beda fasa nya.
makasih sudah mampir.
By: yb3td on November 17, 2011
at 5:40 am
Mohon maaf sebelumnya,kl tulisan ini kurang bisa dipahami……
Seperti kita ketahui bersama bahwa pabrik pembuat pemancar radio kebanyakan menerapkan standar impedansi output pemancar adalah 50 Ohm. Demikian juga para pabrik pembuat antenanya, mereka merancang atas dasar impedansi 50 Ohm. Sedangkan kabel (feeder) penghubung dari pemancar/penerima juga dirancang 50 Ohm. Masalahnya, kabel sangat mudah menimbulkan efek pemantulan atau penyerapan energi yang dilewatkannya hal ini disebut dengan Reaktansi (Xs). Sifat dari reaktansi ini sangat tergantung dari frekuensi pancaran, kondisi kabel, panjang kabel, dan sebagainya. Xs bisa menambah tapi bisa juga mengurangi impedansi kabel yang kita pakai. Maka secara ideal Xs pada kabel seharusnya bernilai 0 Ohm, artinya tidak menambah atau mengurangi impedansi kabel (50 Ohm). Pada Xs=0, kabel disebut resonan atau transparan.
Pada kabel yang tidak resonan, akan terjadi banyak kehilangan energi disepanjang kabel, sehingga daya yang dipancarkan akan sangat berkurang. Itu sebabnya, sebaiknya, sebelum memasang antena, resonansikan dulu kabel anda. Bila kabel telah terpasang antena, anda tidak bisa lagi mengukur reaktansi kabel, karena bisa reaktansi yang ada adalah reaktansi gabungan kabel dan antena. Akibatnya, SWR antena dan kabel pada SWR 1:1 belum tentu memberikan hasil pancaran yang optimum.
Ada beberapa cara untuk mencari panjang resonan suatu kabel, dengan cara perhitungan, dengan menggunakan SWR meter dan dummy-load, dengan SWR analyzer/Antenna Analyzer.
Referensi :
The ARRL Antenna Book, The Amercan Radio Relay League, Inc. Newington, Connecticut, 1980.
MFJ HF/VHF/UHF SWR Analyzer Instruction Manual, MFJ Enterprises, Inc. Strakville, USA, 2007
Salam..
By: tata on November 17, 2011
at 1:49 am
mas Tata, kalo anda sopan dan baik hati, mestinya gak perlu minta maaf lho. kan kita sama-sama lagi cari jawaban. hehehe. ada bbrp yang ngga sopan udah saya disapprove kok komentarnya.
1. memang asli deh saya bingung baca komentar anda. sulit dipahami. saya menuduh anda melakukan plesetan-plesetan istilah. misalnya istilah reaktansi utk menggambarkan soal “cable loss”. juga istilah “kabel resonan” yang makin membuat diriku garuk-garuk kepala karena memang berketombe.
2. jadi supaya singkat, mohon info di halaman berapa dari buku referensi anda ada artikel yang membuat anda berkesimpulan seperti itu. saya juga baca buku-buku ARRL (tapi belum baca MFJ Instruction Manual karena ngga punya alatnya). atau kalo berkenan minta scan saja yang versi bahasa inggrisnya dan dikirim ke email saya riv[at]yb3td.com . bukan bermaksud mengejek, tapi siapa tau anda mengalami kendala bahasa sehingga beda penafsiran arti kalimat di buku itu.
makasih sudah mampir. jangan kapok mampir lagi.
By: yb3td on November 17, 2011
at 5:32 am
To : Mas Rivai
Sekali lagi sy mohon maaf,karna telah membuat anda berketombe……
Untuk ARRL coba nanti kalau ada kesempatan akan sy scan,maklum mas bisanya hanya pinjam.
Untuk MFJ anda tidak harus punya atau beli,silahkan download manual instruction MFJ 259B atau
MFJ 269 dlm bentuk pdf dan asli bahasa inggris,free lagi….
Suwun dan salam……
By: tata on November 18, 2011
at 12:04 am
ok sip deh mas Tata. saya tunggu kirimannya. makasih sebelumnya dah ngrepotin.
By: yb3td on November 18, 2011
at 7:01 am
Dear, Mas rivai
Untuk ARLL Antena Book,The Amercan Relay League,Inc.Newington,Connecticut,1980
Di Chapter 3, hal 67 smp 129, mudah2an yg empunya boleh dipinjam.
Katur homat saya
Tata
By: tata on November 18, 2011
at 12:39 pm
wah yang ini saya enteni deh mas. kayaknya bagus. atau kalo di antara pembaca ada yang punya, sudilah kiranya halaman itu di scan dan dikirim ke email saya riv[at]yb3td.com . hati-hati kalo kirim pake gmail, maksimum attachment hanya 5 MB.
By: YB3TD on November 22, 2011
at 8:38 am
katur, Mas rivai
Sekedar info ,mungkin bisa dibuka web nya w8wv (Robert V Mills)
Analysing three Antena Analyzers
homat kawula
Tata
By: tata on November 20, 2011
at 12:08 am
yang ini mohon info web address nya, mas. saya googling kok mbingungi yang mana yang kudu di klik.
kamsiah, xie xie.
By: YB3TD on November 22, 2011
at 8:39 am
Dear,Mas rivai
Ini alamatnya mas.
http://www.seed-solutions.com/gregordy/Amateur%20Radio/W8WWV%20Experimentation.htm
Salam…
Tata
By: tata on November 23, 2011
at 12:29 am
mas kalo boleh tau, yang kudu dibaca yang mana ya? biar langsung ke sasaran saja nih.
By: yb3td on November 23, 2011
at 5:53 am
mulai dari In Search of : Accurate impedance Measurements
By: tata on November 23, 2011
at 12:26 pm
kalo bisa yang spesifik saja mas. mulai dari paragraf mana yang anda pikir paling menjurus jawabannya. makasih sebelumnya.
By: YB3TD on November 23, 2011
at 2:10 pm
Impedance Measurement Techniques,sebenarnya akan lebih baik kalau dibaca semua.
Karna artikel ordy pd in search : accurate impedance measurements saling terkait, dan
Referensinya ARLL.
-Analyzing three antenna analyzer
-Traditional Impedance bridges
-Another look at the impedance reference
By: tata on November 23, 2011
at 4:18 pm
maaf maksudnya referensinya ARRL,
mas bacanya santai aja,nanti ndak berketombe lg……….
By: tata on November 23, 2011
at 4:24 pm
oke mas, tak baca pelan-pelan saja. makasih link nya.
By: yb3td on November 23, 2011
at 7:52 pm
Mas ini ada web yg masih berkaitan dg topik motong memotong
http://www.antenna-theory.com/
Klik Smith Chart and Impedance Matching
Tapi bacanya pelan2 aja ya…..
By: tata on December 3, 2011
at 2:25 am
ok makasih link nya. nanti tak baca pelan-pelan.
By: yb3td on December 3, 2011
at 5:15 am
Dear Mas Rivai
Mohon maaf kalau w nya kurang satu, jd yg betul w8wwv (Gregory M Ordy)
Suwun…
Tata
By: tata on November 23, 2011
at 1:30 am
Wah makin rame ya comment-nya. Oh ya ada referensi lagi nih yang mirip2 persoalan diatas (saya kutip dari http://www.kf4l.org/coaxbasics.htm) sbb :
“Question: Why do so many people recommend using 1/2 wave mutiples of coax? Will it really hurt me if I take the time to measure a 1/2 wavelengh multiple of coax?
Answer: The idea of using 1/2 wavelength multiples of coax comes from the fact that the antennas feedpoint impedance is “mirrored” at the input of the coax when using the said length. Many operator make / made the assumption that was a good thing because it was just like having the antenna hooked right to the radio / SWR meter. If anything other than a 1/2 wavelength mutiple is used, the impedance the radio / SWR meter sees is the antennas feedpoint impedance transformed to some other value of impedance. So, if your antenna has a feedpoint impedance of 25 Ohms and you use a 1/2 wavelength wave length of coax, the radio will “see” 25 Ohms in the input end of the coax. If you were to use some other length, say a 1/4 wavelength of 50 Ohm coax, the radio would “see” an impedance of 100 Ohm. What consequences does this have? None. Whether the impedance is 25 Ohms or 100 Ohms, the SWR is STILL 2:1. No matter what the 50 ohm line length, the resultant SWR is still 2:1…at the antennas feedpoint, at the input end of the coax and at any and every point along the coax line.
Dan saya setuju kesimpulannya sebagai berikut :
“Question: What is the “correct” length of coax?
Answer: The shortest length that makes it from the radio to the antenna”
jhahahahaha…….
(NB : Oh ya pas pelajaran transmission line theory aku nggak masuk je.. khan aku titip absen sama YB2ECG…. Qqqqqqq)
By: yd0nga on December 1, 2011
at 5:48 pm
jhahaha. makasih pencerahannya, masbro. wah anda rupanya “ikut panas” juga.
sesungguhnya saya lelah secara mental soal topik ini. rupanya tradisi potong kabel sudah berurat berakar. tapi ya mo gimana lagi wong posting ini berkontribusi besar menaikkan angka visitor di blog ini hehehe
By: yb3td on December 1, 2011
at 5:57 pm
Salam kenal untuk semuanya.
Mengenai matching panjang coax ini saya ingat pengalaman mendampingi seorang teknisi dari Ericsson sekitar tahun 90an , menginstall BTS di frekuensi 490MHz. Selesai install antena dan coax 7/8 inch , langsung sambung ke BTS dan diukur SWR nya , menggunakan SWR meter yang ada di BTS terukur sekitar 1.2. Saya tanya ke dia , kenapa tadi tidak dilakukan matching panjang coax/jumpernya terlebih dulu seperti yg dilakukan bbrp rekan amatir radio? Dia jawab … ooo ya nggak usah , karena coax yang kita gunakan cukup sempurna , impedansinya selalu 50 ohm katanya.
Dan sampai sekarang saya belum pernah melihat instalasi BTS melakukan matching panjang coax .
By: Kang Paimo on December 2, 2011
at 2:24 pm
Wuih, apa kabar mas Daryono? kalo masih inget, saya eks YD2MTA mas. hehehe. makasih ceritanya. biar nambah manteb hati utk aliran anti-potong coax.
kok awet banget di tempat kerja nih? sejak jaman mobisel sampe ganti nama STI masih awet. salam utk keluarga mas. makasih sudah mampir.
By: yb3td on December 2, 2011
at 2:52 pm
Kabar baik … waduh daya ingat saya sudah anjlok .. saya scan2 memory dulu … tapi mungkin sdh ke delete he he he …….
Ya betul , saya pathok bangkong disitu….. sekarang disuruh scan2 frekuensi , soalnya kita banyak mengalami gangguan interference.
Salam kembali….
Untuk masalah coax …. kebayang kalau untuk wave guide apa harus di match dan harus dipotong mm demi mm ………Waktu ikut ngawasin pasang mikrowave 11GHz , wave guide yang panjang nya 100 meter yo langsung dipasang saja…..
By: Kang Paimo on December 2, 2011
at 5:10 pm
kita ada site backbone di gunung Lompong, mas. tinggi towernya saja sudah 90 meter. kalo lagi kabut, jarak 5 meter ke atas udah ngga keliatan lagi. jadi memang pilihan satu-satunya cuma waveguide. dan andaikan motong-motong memang perlu, di 11GHz satuannya bukan milimeter lagi mas. tapi udah nano meter. gimana motongnya coba. hihihi.
By: yb3td on December 2, 2011
at 6:16 pm
Nih tak kutip dari RSGB Handbook :
Chapter 14.
……..
Characteristic Impedance
A transmission line with its two conductors in
close proximity can be thought of as a series of
small inductors and capacitors distributed
along its whole length. Each inductance limits
the rate at which each immediately following
capacitor can be charged when a pulse of electrical
power is fed to one end of a transmission
line. The effect of the LC chain is to establish a
definite relationship between current and the
voltage of the pulse. Thus the line has an
apparent impedance called its characteristic
impedance or surge impedance, whose conventional
symbol is Zo. Transmission line characteristic
impedance is unaffected by the line
length.
……..
Baru halaman pertama dari bab 14 lho… hahahahaha…. mosok masih perlu jang-rajang kabel….
By: yd0nga on December 24, 2011
at 3:22 pm
you know what, this topic is the most viewed post. sehingga bisa ngalahin blog visitor counter nya milik kawan kita di sebelah. jhahaha. nesu rak ya bocahe kita gasak?
By: yb3td on December 24, 2011
at 5:14 pm
Wah saya gak tau mana yang benar, tapi kalau cuma untuk menaikkan pengjung saya rasa gak sreg juga post, saya juga punya callsign dan saya tidak muak dengan calsign saya “kutip”, dan saya juga sering baca beberapa blog teman-teman lainnya tapi saya tidak menertawakan mereka bagi saya mereka posting hanya untuk berbagi berdasarkan pengalaman mereka “kutip”, berdasarkan pengalaman saya dan yang pernah saya lihat hampir semua teman-teman yang mengikuti ivent adu pancar semuanya pada potong kabel dan hasilnya memang terbukti, dengan antena yang sama di coba pada kabel yang dimachkan dan yang tidak ternyata ada perbedaan kok hasilnya bukan diperoleh dari SWR saja tapi dari hasil monitor rekan lain. itu berdasarkan pengalaman loh bukan teori tapi itu yang saya lihat, makasih
By: andi on February 24, 2012
at 6:34 pm
makasih penjelasannya gan.
By: yb3td on February 24, 2012
at 7:28 pm
just sharing unek2 saja, saya newbie lebih cenderung ke madzab ngematch coax dulu sebelum di”bebani” RF tertentu karena coax tersebut saat digunakan dapat sebagai saluran transmisi sekaligus sebagai filter yang mana dia resonan maksimal pada frekuensi yg diset saat matching. Memang coax/saluran tranmsisi apapun akan dapat mencapai swr 1.0 / 1.1 jika dibebani dgn load yg sama dengan impedansinya ; tetapi alangkah idealnya jika saluran transmisi dibuat resonan dulu pada frekw yg dikehendaki , …….
begitu pula antena sebagai beban juga harus diresonankan dulu pada frekuensi tersebut yg mana diusahakan mendekati nilai impedansi (resistif) dari saluran transmisi coax/heliax …. jika semua sistem transmisi-antena sudah sepadan insya allah dapat dicapai swr 1.0 /1.1 dengan transfer daya ke antena maksimal….
Saluran transmisi yang sudah match pada frekuensi yg dikehendaki maka dia akan memberikan losses daya terkecil (karena ideal hanya komponen resistif yg menyebabkan bocoran daya sepanjang saluran tsb) pada frekw tersebut, pada frekuensi selainnya akan relatif lebih besar…. dia pun lebih maksimal meredam sinyal frekw diluar spesifikasi nya, ….akan mengurangi qrm ataupun tvi…
Bisa saja nilai swr 1.0 / 1.1 dicapai tanpa trimming coax terlebih dahulu, dengan hanya tuning pada antena….. tetapi apakah benar impedansi antena = impedansi resistif coax = impedansi resistif tx/rx..? Karlena saluran transmisi tidaklah ideal unlosses dan murni resistif, disana dia bisa mengandung komponen kapasitif ataupun induktif tergantung panjang saluran dan frekuensi yg dilewatkan…. so, bisa saja nilai swr 1.0 / 1.1 adalah matching semu dititik koneksi dengan TX/RX… dan daya yang terpancar di antena jadi tidak maksimal…
Ini menurut saya pribadi, CMIIW,…. dari hasil baca2 (mhn maap sekedar teoritis saja) dari primbon “LINES, WAVES, AND ANTENNAS – The Transmission of Electric Energy” punya robert grover brown dkk…
Kalo tentang kenapa intalasi BTS tidak pernah/jarang dilakukan matching kabel terlebih dahulu, karena demi mengejar target pencapaian instalasi saja, dan antena yg akan dipasang sudah bener2 matching 50ohm resistif (impedansi reaktansi nya sangat2 kecil) lagipula tidak bisa dituning alias fixed tune by factory…..shg dimungkinkan berapa pun panjang heliax yg dipakai diharapkan bisa mencapai swr 1.1, dan juga operator seluler juga masih mengijinkan pencapaian swr max 1.3-1.4 ….so suka2nya instalatir saja dan idealisme yg nge-waspang saja….kalo waspangnya saya pasti akan saya suruh matching kabel dulu, hhhh…. oh ya bandwidth seluler cukup lebar, yg gsm saja bisa 100mhz…apalagi yang 3G….so cukup swr average band saja 1.3 max, ….jadi sangat repot jika kudu match di satu frekuensi,…… beda dgn band amatir radio yg hanya mancar di satu frekuensi dgn bw 5khz per kanal voice, bisa saja dibuat match di all kanal suara tapi mengorbankan gain antena (tapi gak bisa rata 1.1 lho…)
ini dulu sharing saya, cmiiw….
trims banyak untuk om rivai yg telah menyediakan forum ini, semoga bermanfaat utk semua…seperti saya yg masih terbatas di-textbook saja.
BR, salam enal semua….
By: ayahfarhan on April 3, 2012
at 7:42 am
salam kenal juga mas. bebas berpendapat asal tidak saya dihujat. kalo ngga santun ya ngga saya approve komeng nya hehehe (sdh ada bbrp yang saya disapprove). monggo saja pendapatnya begitu. saya sudah dalam tahap kesadaran bahwa ini memang seperti aliran shalat tarawih 11 rakaat vs 23 rakaat. masing-masing punya dalil. andaikan salah satu dalil bisa dibantah, tetep aja akan ada shalat tarawih 11 atau 23. jadi monggo saja.
By: yb3td on April 3, 2012
at 7:57 am
Inggih om Rivai….pancen semua harus ada dalilnya dan benar terbukti kebenarannya juga nyata2 bermanfaat…so, kemudian masing2 disilakan memilih dan menerapkan….gak perlu saling menghujat, mestinya bisa saling melengkapi….
mbahas apalagi ya…, ada gak di-indonesia yg sudah mencoba gmsk pada HF…? sapa tau bisa dipake dipelosok terpencil untuk akses internet via radio HF….. Om Rivai, mnopo kagungan reperensi…..? untuk kemajuan bersama ni, hhhh
matursuwun sanget, wasalam, nuwun…
By: ayahfarhan on April 3, 2012
at 9:09 am
kalo saya, ngga punya mas. dicoba googling saja mungkin ada. teoritis pasti bisa. tapi rasanya sih bakal lemot abis. dulu ITB pernah punya BBS di 7,03 Mhz tapi kalo gak salah speed nya cuma dapet 300 bps. mungkin karena pake mode CSMA/CD. sekarang sdh ngga ada lagi. EDGE saja mentok di 64 kbps lho, apalagi GMSK masbro.
By: yb3td on April 3, 2012
at 9:27 am
tul gan, semua kabel 50 ohm yg baik pasti sudah 50 ohm. kecuali kabel abal2. saya gak pernah mathing kabel atas dasar pengalaman waktu smp.
jadi guru saya d smp bertahun2 lalu juga gak pernah matching kabel
dengan percobaan,,,,, kabel teflon 2m, 5m, 10m, 20m, sekalipun pasti match dengan antena yg sama. tapi rg 58 bekas, dari 2m, 5m, 10m, hasilnya berlainan. dengan kata lain kualitas kabel yg bermasalah gak perlu d match. JZ 13 NJL. Semar, malang
By: semar jz 13 njl on May 24, 2012
at 6:49 pm
makasih komengnya gan. tapi situasinya sudah kayak orang shalat tarawih 11 vs tarawih 23. masing-masing punya dalil. andaikan salah satu terbukti salah pun, ngga akan bisa begitu saja menerima pendapat dari yang benar. jadi yach biarin aja deh. setidaknya posting saya sudah membuat para pembaca jadi goyah pemikirannya. hehehe
By: yb3td on May 25, 2012
at 5:47 am