Posted by: Rivai | June 4, 2010

Aturan Main Ber DX

Kesasar ke web http://dx-code.org memberikan bacaan bagus tentang DX Code of Conduct, aturan main saat kita sedang ber DX. Kalo liat isi aturan main ber DX sih ditujukan kepada kita-kita yang ada dalam posisi nguber (hunting) sebuah stasiun DX yang langka dan sedang di pile up. Tapi secara umum, tulisan mengenai aturan main ber DX ini bagus juga utk kegiatan DX biasa. W6SJ sang pemilik web site prihatin dgn kondisi pile up yang makin lama makin jauh dari nilai-nilai fair radio amatir. W6SJ ingin menyebarkan aturan main ber DX ria ini kepada siapa saja, radio amatir senior (mereka yang merasa sok keminter-keminter itu) dan radio amatir pemula dlm cabang kegiatan DX. Aturan ini bukan release resmi organisasi-organisasi radio amatir manapun. Bukan juga release IARU. Tapi dari sekedar seseorang yang prihatin tentang kondisi radio amatir. Jadi ini terserah kita, apakah hendak mengikutinya (biasanya kalo datangnya dari Amrik, suka pada ngikut) ataukah hendak tidak mengikutinya. Terserah saja.

Siapa sih W6SJ? Pada ngga tau ya? Sama, saya juga ngga tau dan ngga kenal. Maklum, saya kan penegak dari Jawa Timur. Hehehe.

Sedangkan isi DX Code of Conduct adalah sbb (dan terjemahan gaya bebas tipe standard YB3TD):

I will listen, and listen, and then listen some more.
(Saya akan mendengarkan dulu, mendengarkan dulu dan lalu mendengarkan sekali lagi)

I will only call if I can copy the DX station properly.
(Saya hanya akan memanggil jika bisa membaca call sign stasiun DX dengan tepat)

I will not trust the cluster and will be sure of the DX station’s call sign before calling.
(Saya tidak akan tergantung kepada DX cluster dan sudah yakin call sign stasiun DX sebelum memanggil)

I will not interfere with the DX station nor anyone calling him and will never tune up on the DX frequency or in the QSX slot.
(Saya tidak akan mengganggu stasiun DX itu dan siapapun yang sedang mencoba bekerja dengannya dan TIDAK AKAN TUNING di frekuensi stasiun DX itu).

I will wait for the DX station to end a contact before I call him.
(Saya akan menunggu stasiun DX untuk menyelesaikan sebuah contact sebelum saya memanggilnya)

I will always send my full call sign.
(Saya akan memanggil dengan mengucapkan seluruh call sign saya utuh, ngga cuma nyebutin suffix saja)

I will call and then listen for a reasonable interval. I will not call continuously.
(Saya akan memanggil dan kemudian mendengarkan dalam jeda waktu yang memadai. Saya tidak akan memanggil seperti di 3.770 MHz IWAAK IWAAK IWAAK IWAAK SETOOOOP)

I will not transmit when the DX operator calls another call sign, not mine.
(Saya tidak akan transmit saat si stasiun DX itu sedang melayani orang lain, bukan saya)

I will not transmit when the DX operator queries a call sign not like mine.
(Saya tidak akan transmit saat si operator DX sedang melayani sebuah call sign yang TIDAK MIRIP call sign saya)

I will not transmit when the DX station calls other geographic areas than mine.
(Saya tidak akan transmit saat stasiun DX melakukan panggilan terarah yang tidak klop dengan call sign saya)

When the DX operator calls me, I will not repeat my call sign unless I think he has copied it incorrectly.
(Saat dia memanggil saya, saya tidak akan mengulang-ulang call sign saya kecuali saya pikir dia keliru membaca call sign saya)

I will be thankful if and when I do make a contact.
(Saya akan mengucapkan terima kasih jika dan saat contact bisa dijalin sempurna)

I will respect my fellow hams and conduct myself so as to earn their respect.
(Saya akan menghormati sodara sehobby saya dan mengendalikan diri sendiri supaya saya juga mendapat hormat dari sodara-sodara sehobby saya)


Responses

  1. Great reminder pal.

    Terkadang kita lupa 3L, Listen, Listen, and Listen….
    Sering kita ‘saur manuk’, QRZed? dijawab pula dengan QRZed, jadi ‘loop back’ yang menggelikan terutama pada kontes!
    Lihat kelakuan ‘kita’ pada ONN dan net,
    Lihat kelakuan ‘kita’ tune pada frekuensi yang sering digunakan,
    Lihat kelakuan ‘kita’ berlatih berhitung, satu-dua-tiga…
    So what?

    (eh, jadinya curhat juga….)

    • la ini jadi menarik. andaikan, ini andaikan lo ya, andaikan ada “solusi alternatif”, anda sendiri akan belok kanan atau terus, master? hehehe

      • Kalau itu sih, IMHO, lebih ke arah self education dan kembali ke individu masing-masing. Walau ‘organisasi’ juga memberikan peran penting ke arah ‘pembinaan’, kecuali memang ‘organisasi’ tidak peduli atau melakukan ‘pembiaran’.
        Bukan masalah belok kanan atau terus, namun yang terbawa adalah wajah amatir radio di Indonesia. That’s the point!
        Jadi inget AA Gym dengan 3M.
        Susahnya juga ‘Iwak-iwak-iwak stop’ terkadang menjadi ‘menu wajib’ setiap kegiatan off-air amatir radio…. jadi ya rada sulit mengobati ‘orang-orang sakit’ ini… eh bener ya ‘orang sakit’ ya….mengambil spot di dx-cluster. Kasihan bener orang-orang ini….

        [sri rada panjang]

  2. Kenapa yang beginian kok datangnya bukan dari YB Land ya? Tapi khan memang peradioan di YB Land mirip kondisi lalulintas di Indonesia… Ruwet, Semrawut, Minim (atau tidak ada) Law Enforcement, Tahu ada aturan tapi EGP dsb, dsb… Jadi boleh dong jadi “kolektor” saja… Nunggu situasi kondusif.. Sekalian nunggu hasil “putusan” itu lho…..

    • nek cara saya yo karena proses edukasi tidak berjalan. cuma mengandalkan self training. maka berlaku hukum fenotip = genotip + lingkungan. genotip terjemahan bebasnya = gawan bayi ? hahaha

  3. @yb2ecg. wah kalo keliatan yang paling berpengaruh adalah self education ya repot to master. karena proses itu berjalan tanpa arah. padahal anda sendiri sdh melihat fakta (hasil dari self education itu) inilah wajah amatir radio di Indonesia.

    malah jadi inget salah satu baris di kode etik amatir radio. bukan kode etiknya, tapi justru kalimat “inilah ciri-ciri khas amatir radio Indonesia”. mungkin yang itu ya yang dimaksud?

    • He he….
      Bisa juga tuh OM : ‘Inilah Ciri-ciri khas Amatir Radio Indonesia’, ha ha ha……
      BTW, enakan tuh NGA, ‘cuma’ jadi kolektor….. nggak takut nih elektrolit kapasitor di radio jadi kering karena nggak pernah dipakai? ha ha…..

  4. NGA tu cerdas dia. bukan masalah elco jadi kering. tapi kalo sering-sering muncul akan membuat IAR jadi cepet habis. jadi dia ngirit IAR supaya perpanjangannya bisa mundur. hahaha.

    • Oh, IAR yang sekarang ada ‘time counter’-nya to? ha ha….

      • semacam begitu. tapi modelnya perforated paper kaya prangko. setiap kali NGA mengudara, itu harus disobek dan dikumpulkan. lama-lama entek kertase la’an. hahaha

  5. Hush.. ngrasani… pantesan kok rada gatel pengen ndengerin radio.. jebul dirasani semprul… hahahahaha….. nggak-lah kita pengen yang model isi ulang via ATM kalo model diperpanjang nanti dompet-ku ndak cukup buat nyimpen IAR… hahahahaha… Yang cedas itu si orang gresik, untuk menghindari perpanjangan lebih baik ganti callsign… kemarin aja hampir pake wilayah 0, ternyata itu trik untuk menghindari perpanjangan IAR… hahahahahaha…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: