Posted by: Rivai | January 19, 2011

Membuang Idealisme

Di hari-hari akhir tutup tahun 2010 kemarin, saya ikut ngumpul di acara ulang tahun seorang kawan di sini. Amatir radio temtu saja. Si Kawan ini mengundang juga kawan-kawan amatir radio yang lain yang saya tidak kenal (padahal sesama lokal Gresik). Akhirnya saya dan group itu berkenalan dan perkenalan itu memberikan hikmah mendalam untuk saya.

Group itu adalah para ponggawa warungan di salah satu frekuensi di bilangan 146 MHz. Istimewanya group ini adalah mereka bernyanyi-nyanyi, memutar lagu-lagu dangdut dan memainkan alat-alat musik yang mereka kuasai di frekuensi itu. Juga melayani pilihan pendengar. Hahaha.

Akhirnya perkenalan saya dengan group itu mengarah ke soal regulasi. Bagaimanapun juga, saya yang biasa berpegang teguh pada PPAR (peraturan-peraturan amatir radio) merasa sesak napas dengan tingkah laku seperti itu. Jadi saya arahkan saja ke soal regulasi dan menunggu para jagoan musik itu berpendapat.

Dan ternyata memang masuk akal argumen mereka. Ada saat salah satu ponggawa itu (seorang penggalang yang umur IAR nya sudah lama karena itu angkatan ujian di Semen Gresik dulu) dengan berapi-api bercerita mengusir satu stasiun yang mencoba melakukan jamming terhadap aktifitas “bermusik” di frekuensi itu. Dan satu kalimat yang sangat berkesan bagi saya adalah:

“Jadi orang mbok ya jangan terlalu kaku. Melanggar-langgar dikit aturan kan ngga papa. La wong aturan dari Gusti Allah saja kita sering melanggar-langgar kok. Apalagi aturan soal amatir radio yang cuma buatan manusia”.

Nah lo.

Tiba-tiba saya merasa kikuk merasa selama ini lebih berpegang teguh pada PPAR tapi malah mencoba “bernegosiasi” terhadap aturan yang tertulis di Kitab Suci. Kan kebalik tuh.

Sesampai di rumah, saya lalu menerawang jauh dan mengumpulkan ingatan-ingatan saya tentang tingkah laku para pembesar organisasi radio amatir ini di berbagai tingkatan yang ternyata amat cocok dengan kalimat sang ponggawa itu. Banyak cerita soal perilaku-perilaku pejabat organisasi pusat di jakarta yang yaaah begitu itu lah. Semau gue dan sarat kepentingan pribadi. Masih terngiang kalimat guyonan  tapi serius saat munas Bali dulu ada yang cerita “Kalo ngga gara-gara YB1xxxxx, si YBxxxxxxx nggak bakal bawa duwit sekoper tuh”. Juga para pejabat di KemKominfo yang yaaah begitu deh adanya. Juga ditunjukkan oleh pagelaran wayang orang khas Jawa Timur pasca musda kemarin yang para pelakunya masing-masing punya kepentingan pribadi. Bisa jadi cerita wayang orang karena kemudian muncul konflik kepentingan yang rasanya akan berujung di kepentingan individu. Juga meliat dengan mata kepala sendiri kejadian-kejadian di lokal sini yang yaaaah gitu deh. Konflik antar kelompok yang visible, bisa dililhat dengan mata telanjang. Rupanya ada yang salah dengan saya pribadi.

Saat ini saya sudah membulatkan tekad untuk ikut membuang idealisme saya. Ikut rame-rame menceburkan diri ke hobby tanpa idealisme ini. Pepatah Jawa, Nek Ora Edan Ora Keduman. Jangan lah jadi berusaha waras di tengah-tengah kegilaan. Karena yang waras justru akan dianggap gila karena kalah mayoritas.

Bagaimana dengan anda? Jangan dijawab ya. Tapi dilakoni saja. Yuuuuk mareee.


Responses

  1. Ehm……(sambil manggut-manggut).
    (Saya nggak njawab lho)

  2. wah padahal aku menanti komentarmu lo ndan. selalu tajam, setajam silet !!! jreng-jreng …

    • ya memang susah sih ndan; memang harus dilihat dari term of reference (opo iki ?); terkadang memang harus jadi ikan di lautan; ikan nggak akan asin walau hidup di laut yang katanya asin (kecuali sudah mati dan jadi ikan asin).
      Masih relevan kok Joyoboyo😀
      Tapi opo ya mesti begitu? (jangan dijawab ya).

    • jadi inget waktu rame-rame milis ttg ASRI, inti sarinya adalah “apa sih yang kau cari dgn membuat rumit organisasi. wong ini cuma hobby”. dikaitkan dgn urusan iwak asin ini, ternyata salah kalo si iwak ini tidak jadi asin. “hai iwak, kenapa kamu tidak jadi asin? apa sih yang kau cari di lingkungan yang asin ini?”.

      iki aku cen njawab lo, gan. mergane iki blog ku dewe lo. mosok seh aku gak entuk komentar ndik blog ku dewe. lapo kon. jhahaha

  3. speechles gan.
    aku malah dadi males mainan amatir radio lagi,
    padahal ya baru 1 kali dapet delta.

    • sdh suratan alam, matahari kalo terbit pagi, pasti akan tenggelam pada saatnya. jadi marilah belajar jadi orang sabar utk menunggu matahari-matahari yang terbit lebih dulu dari kita untuk tenggelam pada masanya. nah pada saat itu ada matahari-matahari pagi yang membuat segala sesuatunya jadi bersemangat dan bergerak. sebetulnya ya termasuk anda itulah matahari-matahari Dhuha. kalo saya rasanya ibaratnya sudah jam 2 siang, mas. sebentar lagi ‘Ashar lalu “Maghrib” hehehe.

      • Kira-kira yang bikin males ‘mainan radio’ itu apa ya?
        apakah karena mikirin organisasi-nya atau memang sepenuhnya dari faktor internal/pribadi sendiri.
        Saya pribadi sih memang rada berkurang namun masih disempetin dah kalau ada major kontes atau kalau nggak ya ngoprek PC/Notebook yang HAM Related.
        Emang kalau ngurusin organisasi plus bengek-nya ya jadi makan ati;apalagi kalau dirasakan kondisi dan greget tidak seperti yang kita harapkan.
        c’est la vie, que sera sera…..

      • kegiatan yang paling menarik utk saya di ham radio ini ternyata harus membentur tembok bernama senioritas. kalah jumlah sehingga kalah perang. hehehe. alhasil jadi kudu kompensasi ke hal menarik kedua yaitu contesting. nanti deh kalo ekonomi sdh sangat makmur, tak beli “rompi anti peluru” supaya “bulletproof” dan kembali menerjuni kegiatan itu. hehehe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: