Posted by: Rivai | November 2, 2011

5 Tahun Jadi Orang Gresik

Hari ini tanggal 2 Nopember adalah ulang tahun yang ke lima jadi orang Gresik. Hehehe. Ditandai dengan sarapan pagi berupa rawon yang dibeli di pertigaan depan pom bensin (yang kemudian saya mengenalnya sebagai pertigaan Tenger), maka resmi sudah menobatkan diri jadi orang Gresik.

Rasanya lebih banyak rasa duka dibanding suka. Problem terbesar adalah adanya inkompatibilitas lidah dengan makanan-makanan khas Gresik dan khas Jatim lainnya. Yang katanya nasi krawu Bu Tiban adalah nasi krawu yang ter huwenak di Gresik, tetep aja membayangkan namanya udah bikin jatuh mood makan. Padahal ada artis cewek (duh sapa ya lupa namanya) yang sampe ngidam pengin nasi krawu Bu Tiban, depan pasar Krempyeng. Adalagi namanya Pudak. Mencium bau manisnya saja sudah ngga ada selera. Jadi sampe hari ini babar blas belum pernah liat dalemnya Pudak kayak apa. Katanya istri sih setipe dengan nagasari tapi sengaja dibuat lebih padat dan dibungkus dengan suwiran pelepah pohon siwalan. Jadi satu Pudak beratnya bisa mencapai 0.5 kg.

Makanan gorengan juga sama sekali ngga menggugah selera. Digoreng terlalu kuning dan atos tepungnya, membuat rasa kangen yang luar biasa kepada mendoan jl wiratno cilacap beserta tahu brontaknya yang orange. Lebih parah lagi, soto tipe kecik sokaraja sama sekali ngga ada yang jual di Gresik dan bahkan Surabaya. Dengar-dengar di Sidoarjo ada yang jual, tapi juwawuh nya minta ampun dan lokasinya nylemped pula. Jadi kalo pas mudik, ya makanan-makanan itulah yang wajib ada di meja makan setelah berpuasa makan makanan khas selama 3-4 bulan. wedeww.

Tapi yang paling membuat gundah dan gelisah hati adalah Ibu saya yang sudah mulai sepuh. Bukannya ngalup, tapi situasi buruk bisa saja tiba-tiba terjadi terhadap beliau. Dan jarak 650 km perlu waktu yang lama untuk bisa sampai ke sana.

Kenangan yang lain adalah setelah dua tahun di Gresik, hampir saja jadi orang Tambun (Bekasi). Persiapan pindah sudah 90%. Tiket pesawat untuk sekeluarga sudah dibeli. Sudah bayar lunas uang gedung masuk SD di Al Muslim Tambun. Rumah sudah kontrak di Grand Wisata. Eeee ternyata ngga jadi pindah. Kalo inget ini, kadang geli, kadang bersyukur, kadang menyesal. Geli karena ngga jadi pindah. Bersyukur karena ngga jadi berdesak-desakan di jalan saat mudik Idul Fitri (saingan ama jeep nya YDØNGA). Menyesal karena Tambun-Cilacap paling cuma 6 jam perjalanan dibanding Gresik – Cilacap yang 12 jam (jadi jarang nengok Ibu).

Ya wis lah. Tinggal menatap masa depan. Bersiap mendaftar haji utk berangkat 12 tahun lagi. Anak-anak masih kecil. Punya anak tiga tapi tinggal dua sekarang. Apalagi ya? Ada ide?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: