Posted by: Rivai | November 29, 2011

J-Pole Antenna For 28 MHz

Bermula dari niatan untuk ikut kontes akbar CQWW CW 2011 yang dihelat pada sabtu-minggu terakhir di bulan nopember, maka saya berniat untuk menggunakan antenna vertikal tipe J-Pole. Antena J-Pole dikenal memiliki gain yang tinggi, mudah konstruksinya, murah materialnya dan katanya memiliki take-off angle (sudut lepas landas) yang paling rendah. Sehingga amat baik digunakan untuk komunikasi jarak jauh (DXing). Ditambah dengan kondisi penjalaran gelombang (propagasi) yang sedang bagus di 28 MHz (bahkan sepertinya kita hampir berada di titik maksimum indeks fluks matahari di siklus 24) semakin membulatkan tekad untuk segera mewujudkan pembuatan J-Pole antenna untuk 28 MHz.

Ngumpulin materialnya sih gampang. Dan murah juga. Pipa aluminium 5/8 cuma 50 rebon sebatang 6 meter. Langsung ditekuk berbentuk huruf J sesuai dengan rumus J-Pole antenna dari internet. Lalu sisi yang panjang disambung secara teleskopis dengan pipa aluminium 4/8 dan 3/8 dengan total 7,66 meter. Tapi kalo anda mo bikin sendiri, saran saya sih tambahkan juga pipa aluminium 2/8 supaya makin kokoh melawan angin.

Saya juga membuat air-core balun atau lebih dikenal sebagai The Ugly Balun sesuai saran dari SF Rakkus untuk memaksimalkan kinerja J-Pole antenna saya. Air-core balun nya saya buat dari kabel coax RG-58 sepanjang 6 meter yang saya gulung di pralon 4,5″ . Ada yang pernah bilang bisa saja digulung langsung dan diikat karet. Tapi rupanya hal itu tidak dianjurkan karena akan mengganggu impedansi input dan output air-core balun itu. Jadinya ya nurut aja deh saya.

Hari Jumat – satu hari sebelum CQWW CW 2011 berlangsung – seharian deh naik-turun tangga untuk melakukan ritual uji coba dan proses penjodohan dengan radio nya. Hasil akhir bisa dapet SWR 1,2 : 1 di center frequency 28,05 MHz. Tapi sungguh menguras tenaga. Sabtu pagi, semua otot dan tulang-tulang saya ngrememeh dibuatnya. Sehingga tak mampu lagi untuk melanjutkan instalasi antenna J-Pole saya ke tempat yang lebih tinggi. Dan akhirnya batal juga ikut kontes CQWW CW 2011.

Dengan hanya berstatus SWL, oke juga kinerja antenna J-Pole nya. Ketinggian elemen terbawah adalah 2 meter dari tanah. Lalu tergantung juga air-core balun nya. Dengan kondisi pemasangan seperti itu ternyata oke juga bisa mendengar buwanyak banget stasiun yang sedang berkejarang mengumpulkan QSO. Kalo yang deket-deket semacam aussie, jepang, taiwan sih biasa aja kalo signal meter sampe nyentuh angka S9. Pantai barat amrik juga ada beberapa yang amat kuat seperti lokal deh signalnya. Asyiknya, banyak stasiun dari eropa juga lumayan bisa kedenger. Dan yang paling mengagetkan adalah signal YE1ZAW (Subang) diterima S9 juga. Saat itu YE1ZAW sedang melayani satu stasiun dari Jakarta yang juga bisa saya dengar. Ini mengejutkan karena selama ini saya memonitor 27,305 MHz gak pernah bisa dengar sesama stasiun dari pulau jawa (kecuali Surabaya) dengan antenna inverted V.

Jadi kesimpulan sementara saya adalah sifat antenna J-Pole dengan take-off angle yang rendah inilah yang mungkin saja membuat kita jadi bisa mendengar di daerah dead zone. Dan mungkin inilah kunci rahasia antenna avanti yang katanya juga bisa meminimalisir luasan dead zone area. Karena saya sendiri belum pernah menyenth antenna avanti jadi ngga ngerti konstruksinya seperti apa. Kalo skema antenna avanti sih sering liat tapi gambarnya membingungkan untuk bisa menjelaskan tipe apa yang digunakan sebagai base design antenna avanti ini.

Frekuensi 28 MHz (dan tentu 27MHz) sepertinya sedang bagus-bagusnya. Tahun-tahun inilah kita bisa menikmati kenyamanan QSO di frekuensi itu, hal yang akan terulang 11 tahun lagi. Bahkan jika ramalan suku Inca benar bahwa kiamat akan terjadi pada 2012, maka CQWW CW 2011 kemarin adalah event CQWW terakhir bagi kita umat manusia. Hikz ….


Responses

  1. Wah jadi inget Slim Jim ya.. alias antena peniti… mirip2 sih, meskipun nasibnya mengenaskan… (hiks)…. Sorry sabtu nggak bisa mbantuin dari jauh untuk nge-test performa J-Pole-nya, maklum ada kondangan tetangga sebelah… Waktu hari sabtunya tak coba monitor di band 10mtr lumayan rame di segmen bawah meskipun sinyal yang diterima tidak terlalu besar (maklum pake pengarah 3 elemen Hidaka yang nggak bisa bergerak gara2 salah pasang kabel controller rotator…qqqqqqq). Aku sendiri lagi membayangkan pamannya si Bobo naik turun tangga buat nge-match antena, pasti perlu effort yang luar biasa sampai ngrememeh balung-e.. jhahahaha…. Tapi kenyataannya kok ya mung 2 meter dari atas tanah, itu sih pake dingklik bisa… qqqqqq…

    Jadi kesimpulannya kejadian pasang akses point terulang lagi ya? Tiwas diragadi + dialokasikan waktunya jebul pas D-Day-nya malah ra dienggo… jhahahaha… ternyata kita senasib, cenderung lebih enjoy bereksperimen nganti kekeselen trus ngaso dengan komentar “Oppp, jebul mung ngene tho”…… jhahahaha…

    Lalu memunculkan angka keramat “(27)” maksudnya apa? Nostalgia waktu jaman SMP kepengin ngebrik pake Aries? Jhahahaha…

    Wis tho, unggah-ke sing dhuwur, nek perlu Hidaka-ne sisan…

    • 1. jhahaha. wah memang faktor U yang menyebabkan gerakanku sudah tidak sekuat dan segesit ijek jamane nom-noman dulu. ngrememeh beneran kuwe, kaya gemiyen test fisik masuk Larepa, besok senin nya mlakune ngegeng. kelingan ora gan?

      2. untungnya ragad ngga besar gan. kisaran 10$ (pake dollar, maklum trader nih). memang enjoy eksperimennya j-pole. apalagi hampir mustahil kalo kita eksperimennya di band lebih rendah. dijamin makin ngrememeh deh tulang-tulang uzur ini. hihihi

      3. iya nostalgia sik jamane dulu SMP (eh pernah ya kita SMP ?). takjub dengan fenomena bergerak darat malah yang memandu dari sorong. yang dari wangon malah ngga kedenger. hihihi

      4. next experiment dalam waktu dekat mo cobain bikin 5/8 λ antenna di 28 MHz (soalnya aku ora duwe priviledge di 27 MHz) dengan omega matching system. mirip-mirip AV-18VS itu hihihi. ngumpulin tenaga dulu sembari ngatur jadual mo survey lokasi di puncak Bromo di sisi Pananjakan. kepengin bikin stasiun kontest di situ next big event. tertarik gabung?

      • Minggu ini ada 10-meter RTTY contest komendan.
        Jajal to J-pole-nya……
        Only 24 hours, only single band, single mode, everybody works everybody……alias free for all😀

      • ntar tak liat deh juklak nya. udah 8 tahun ngga main digimode gan, jadi aksesorisnya entah pada kemana. kalo tawaran piagamnya menarik ya siapa takut. tks infonya.

  2. mas rivai klo balunya menika pinten lamda,nuwun

    • itu kabel RG-58 panjang 6 meter lalu digulung di koker 3″ – 5″. jadi mbuh piye kuwi ngitung lambda nya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: